Drone Melancong Ke Desa Purwadadi Barat, Kabupaten Subang

Jawa Barat – Sekolah Drone Desa dibawah naungan PSP3 IPB kembali melakukan kegiatan pemetaan desa berbasis drone. Kegiatan kali ini dilakukan di Kabupaten Subang, tepatnya di Desa Purwadadi Barat. Kegiatan ini juga melibatkan beberapa mahasiswa dari Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (KPM) IPB yang sedang mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dengan mengusung judul penelitian, yaitu “Pemetaan Partisipatif menggunakan Instrumen Drone Desa untuk Menghitung Potensi Pangan di Desa Purwadadi Barat”

Pengambilan gambar melalui drone dilakukan selama 2 hari. Kegiatan diawali dengan pengambilan titik-titik koordinat untuk penentuan batas desa menggunakan GPS, pembuatan rute/jalur terbang, dan terakhir menerbangkan drone untuk memotret gambar seluruh Desa Purwadadi Barat. setelah dilakukan pemantauan area, kemudian diputuskan untuk melakukan penerbangan sebanyak 3 kali terbang.

Kondisi cuaca juga merupakan faktor penting yang harus diperhatikan. Pada saat kegiatan kondisi cuaca sedang mendung dan sedikit gerimis, sehingga tim memutuskan untuk menunggu cuaca hingga benar-benar cerah agar nantinya menghasilkan gambar yang jernih.

Jalur terbang drone ini di pantau melalui laptop dengan menggunakan software mission planner sehingga tim dapat mengetahui dan memantau pergerakan drone. Selain itu, informasi mengenai keadaan baterai, sinyal, dan ketinggian drone juga merupakan hal penting yang harus diperhatikan.

Sembari menunggu drone menyelesaikan pemotretan daerah, tim videografi bertugas untuk merekam dan mengambil gambar di sekitar lokasi. Sering kali penerbangan drone menjadi daya tarik sendiri bagi warga sekitar maupun para pengendara, sehingga tak jarang mereka berhenti sejenak untuk melihat proses penerbangan drone ini.

Citra hasil rekaman drone mempunyai resolusi spasial yang sangat tinggi, sehingga sangat memudahkan dalam proses deleniasi batas-batas antar penggunaan lahan. Lebih lanjut diharapkan dengan adanya data yang telah memadai, permasalahan terkait batas desa dapat perlahan-lahan diatasi. Terlebih untuk analisis lanjutan seperti permasalahan pangan maupun kebencanaan dapat diidentifikasi dengan cepat dan tepat.

 

Oleh: Chaida Chairunnisa, S.P, M.Si

Berkah Kristus di Tanah Sikka

TEPAT 22 tahun silam, gelombang tsunami menerjang Maumere, Sikka. Hari itu, 12 Desember 1992, air laut tumpah ke darat. Rumah-rumah diterpa badai. Tak jauh dari laut, sebuah patung tetap berdiri tegak dan memberikan perlindungan bagi warga yang ditimpa musibah. Patung itu memberikan ketenangan dan keajaiban bagi warga. Hingga kini, patung itu tetap ajaib. Patung itu adalah patung Kristus Raja.

Di dekat laut kota Maumere, Sikka, saya mengenang tragedi tsunami. Sebelum Aceh diredam tsunami, tanah Maumere lebih dahulu diterjang. Saya membayangkan lautan yang teduh, tiba- tiba menjadi beringas. Dewa laut seakan murka dan mengirim bala tentara ke daratan dan mengamuk lalu menerjang apapun. Kini, keganasan sang dewa masih membekas di hati warga Maumere.

Sikka, Keping Sejarah, dan Perjumpaan Pertama

Bandara Frans Seda, Maumere
Bandara Frans Seda, Maumere

KETIKA pesawat yang saya tumpangi mendarat di Maumere, ibukota Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), udara terlihat sangat cerah. Langit nampak biru. Pesawat itu mendarat di Bandara Frans Seda (dulu bernama Bandara Wai Oti), pukul tiga sore. Bandara ini cukup besar untuk ukuran sebuah ibukota kabupaten. Bangunan utamanya dua lantai. Di sekitar bangunan, terdapat banyak bunga-bunga yang bermekaran. Saya memotret beberapa di antaranya untuk keperluan brosur wisata.

Kapota, The Small Hidden Paradise

Kapota dari istilah setempat berarti cukup. Saya beberapa kali bertanya-tanya ke komunitas apa makna yang lebih luas dari kata “cukup” itu dan mengapa diberi nama “cukup” (Kapota). Mereka tidak memberi jawaban yang memuaskan. Segala spekulasi bergumul di kepala saya memaknai arti Kapota. Mungkin saja karena masyarakatnya hidup serba kecukupan dimana di masa lalu Pulau Kapota merupakan pusat perdagangan tua di Wakatobi. Tapi entahlah, saya sedang mencari tahu makna Kapota itu.

MoNev Forum CSR Kabupaten Bengkalis Berbasis Teknologi Informasi

Monitoring dan evaluasi suatu program pembangunan dibutuhkan sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas operasional suatu program dan berkontribusi penting dalam memandu pembuat kebijakan di seluruh strata organisasi. Monitoring dan evaluasi dalam pelaksanaan pembangunan memerlukan data dan informasi yang tepat waktu, akurat, relevan dan lengkap. Kegiatan monitoring diperlukan untuk mencatat perkembangan kondisi pelaksanaan pembagunan, memantau proses dan kemajuan pelaksanaan kebijakan secara terus-menerus, mengidentifikasi masalah dan penyimpangan yang muncul, merumuskan pemecahan masalah, dan membuat laporan kemajuan secara rutin dalam kurun waktu yang pendek.

Finalisasi Renstra Forum CSR Kabupaten Bengkalis 2015-2019

Rapat Laporan Akhir Penyusunan Renstra Forum CSR Kab. Bengkalis
Rapat Laporan Akhir Penyusunan Renstra Forum CSR Kab. Bengkalis

Forum CSR Kabupaten Bengkalis disahkan pada Tanggal 24 Februari 2014 melalui Surat Keputusan (SK) Bupati Bengkalis Nomor: 94/KPTS/11/2014 tentang Pembentukan Forum Koordinasi Implementasi Program Corporate Social Responsibility Kabupaten Bengkalis. Inisiatif pembentukan Forum CSR yang telah disahkan perlu terus dikembangkan dengan tujuan mengoptimalkan kegiatan CSR maupun PKBL agar lebih tepat sasaran dan betul-betul efektif dan efisien dalam mendukung program pembangunan. Salah satu kegiatan yang dapat mendukung tujuan tersebut adalah dengan menyusun rencana strategis (renstra) dari forum tersebut (Kolopaking, 2013).