Galeri Foto

100_3163 100_1127 100_1911 100_1294

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Web Design MymensinghPremium WordPress ThemesWeb Development

RI Tak Mau Didikte, Bulog Ingin Impor Sapi di Luar Australia

September 10, 2015September 10, 2015
Jakarta -Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) amelonggarkan importasi daging sapi maupun sapi hidup dari negara pengekspor utama ke Indonesia. Selama ini, Indonesia banyak mengimpor daging beku dan sapi dari Australia dan Selandia Baru, karena jarak yang dekat dan bebas dari penyakit mulut dan kuku (PMK). Direktur Utama Perum Bulog, Djarot Kusumayakti mengatakan, pihaknya sudah melakukan pembicaraan dengan regulator yaitu Menteri Perdagangan (Mendag) Thomas Lembong, dan Menteri Pertanian Amran Sulaiman agar bisa mengimpor dari negara-negara alternatif selain kedua negara tadi. "Saya sampaikan, untuk mendapatkan harga yang aman, kalau terpaksa impor. Kami inginnya nggak impor, kami harus bagusnya ada beberapa negara alternatif, supaya kita tidak didikte," kata Djarot di Istana, usai acara pengumuman paket kebijakan ekonomi di Istana, Rabu (9/9/2015) Djarot mengatakan, saat ini negara potensial sebagai alternatif pemasok daging dan sapi impor adalah Amerika Serikat dan Meksiko. Kedua negara ini memang secara geografis jaraknya lebih jauh. "Katakanlah sapi, tentu bukan negara yang memiliki penyakit mulut dan kuku, itu ya misalnya selain Australia dan Selandia Baru kita juga akan ke Meksiko misalnya. Di sana juga, mungkin Amerika," katanya Menurutnya memang perlu ada perubahan izin soal asal daging dan sapi impor yang akan diberikan kepada Perum Bulog atau importir swasta. "Itu izinnya saja diubah, jadi kami akan beli dari ini, bukan Australia saja," katanya. Sumber : detik.com

Bulog Siap Impor 10.000 Ton Daging Beku

September 9, 2015September 9, 2015
akarta -Perum Bulog siap impor daging sapi beku sebanyak 10.000 ton. Daging beku yang biasa diimpor oleh importir swasta ini akan didatangkan dari Selandia Baru. Menteri Perdagangan (Mendag) Thomas Lembong pada akhir Agustus lalu telah mengajukan usulan melalui surat resmi kepada Kementerian BUMN dan Kementerian Pertanian agar Perum Bulog diberi penugasan mengimpor 10.000 ton daging sapi beku jenis prime cut. Usulan Mendag Lembong ini ditindaklanjuti oleh Kementerian BUMN. Kementerian BUMN memberikan perintah kepada Bulog untuk melakukan importasi, lalu Bulog meminta rekomendasi impor dari Kementan, dan selanjutnya Kemendag menerbitkan izin. Direktur Pengadaan Perum Bulog Wahyu, mengungkapkan bahwa Bulog telah memperoleh restu dari Menteri BUMN Rini Soemarno untuk penugasan tambahan ini. Karena itu, Bulog segera bersiap-siap untuk mengimpor 10.000 ton daging sapi prime cut dari Selandia Baru. "Menteri BUMN sudah menyetujui, kita sedang lakukan proses administrasi untuk impor dari Selandia Baru," kata Wahyu usai diskusi di Gedung Bulog, Jakarta, Selasa (8/9/2015). Wahyu menjelaskan, Selandia Baru dipilih karena harga daging sapi di sana sedang murah, bisa lebih murah daripada daging sapi asal Australia. Meski demikian, Bulog masih melakukan perhitungan matang untuk membeli daging sapi dari Selandia Baru. "Kita sudah melakukan kajian, impor dari Selandia Baru (harganya) bisa lebih rendah. Tapi belum sampai keputusan untuk membeli dari Selandia Baru," ucapnya. Ia mengklarifikasi bahwa tambahan impor 10.000 ton daging sapi ini bukan untuk kebutuhan hotel, restoran, dan kafe (horeka), melainkan untuk operasi pasar. Meski yang diimpor adalah daging sapi jenis prime cut, menurutnya, harganya masih bisa dijual di kisaran Rp 100.000/kg. "Ini untuk pasar umum, bukan untuk kebutuhan horeka," tutupnya. Sumber : detik.com

Pemerintah Akui Sulit Kendalikan Lonjakan Harga Cabai Rawit

September 8, 2015September 8, 2015
Jakarta -Harga cabai rawit selalu dianggap jadi salah satu komoditas yang paling sering mengalami gejolak harga, bahkan sering menyumbang angka inflasi cukup tinggi. Beberapa waktu lalu, di pasar-pasar tradisional di Jakarta, harga cabai rawit sempat menembus Rp 70.000/kg. Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyatakan, ketidakstabilan harga komoditas hortikultura tersebut karena pasokan dan karakteristik dari cabai rawit itu sendiri. Kondisi ini membuat harga rawit sulit dikendalikan di pasar. "Kalau hortikultura kayak cabai dan bawang merah kan sulit dikontrol. Karena satu, tidak tahan disimpan lama, kemudian lebih pada suplai karena panennya kan selalu tidak serentak," ungkap Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Kemendag, Srie Agustina pada detikFinance, di Kantor Kemendag, Jalan Ridwan Rais, Jakarta Pusat, Jumat (4/9/2015). Kementeriannya, kata Srie, tengah melakukan pemetaan produksi cabai rawit untuk menuntaskan gejolak harga dalam jangka panjang. "Daerah surplus di waktu tertentu ini kan tidak diketahui, jadi harus diidentifikasi terus. Saya kira lebih pada penataan suplai," jelas Srie. Srie menampik jika ada oknum pedagang yang memainkan harga cabai rawit sehingga harganya tembus Rp 70.000/kg. "Siapa bilang 5 rantai (distribusi). Sekarang masyarakat semakin cerdas, harga juga transparan. Pedagang tidak akan ambil untung banyak, kalau ambil banyak nggak laku dong pasti," ujarnya. Dia melanjutkan, di pasar tradisional pun, permintaan cabai rawit di pasar-pasar selalu dalam jumlah kecil. "Selama ini saya datangi pasar, mbok-mbok yang jualan cabai paling sehari habis 5 kg, untung nggakbanyak. Yang harus dipotong rantainya itu kalau pedagang ambil untung yang tidak proporsional," tambah Srie. Sumber : detik.com

Nasional : Kuota Dibatasi, Harga Sapi Impor untuk Kurban Naik 30%

September 8, 2015
Jakarta -Kebijakan pemerintah yang membatasi impor sapi pada kuartal ketiga tahun ini sebesar hanya 50.000 ekor, rupanya ikut berimbas pada naiknya harga sapi potong untuk kebutuhan kurban Lebaran Idul Adha 1436 H. Pasokan sapi kurban yang sebagian berasal dari impor ini naik sebesar 30%. "Sapi pasokannya berkurang untuk kurban tahun ini. Makanya ada diikuti dengan kenaikan harga sekitar 30%, kalau kita impor sapi kebanyakan dari Asutralia, jadi ada penurunan pasokan karena impor dibatasi," kata Mila, Manajer Mal Haji Doni, salah satu pusat penjualan sapi kurban di Kota Depok ketika dihubungidetikFinance, Minggu (6/9/2015). Mila menjelaskan, jika dihitung setiap kilogram (kg) berat sapi hidup, kenaikan harga di pusat penjualan sapinya adalah 10.000/kg. "Kalau tahun lalu kita jual sapi hidup dihitungnya Rp 50.000/kg, sekarang karena pasokan sedikit naik jadi Rp 60.000/kg," ujar Mila. Soal harga sapi kurban di tempatnya, sambung Mila, ada 4 golongan tergantung berat dan kualitas sapi kurban. "Golongan middle beratnya 200-300 kg dengan harga Rp 13-16 juta/ekor, kemudian kelas middle up dengan berat 300-400 kg dengan harga Rp 17-30 juta/ekor, kelas premium dengan berat 400-800 kg dengan Rp 31-50 juta/ekor. Terakhir kelas eksekutif beratnya sampai 1,7 ton, kualitas sapi terbaik yang harganya paling tinggi sebesar Rp 400 juta/ekor," terang Mila. Mila mengungkapkan, meski ada kenaikan harga sapi kurban, nyatanya tidak berpengaruh pada antusiame masyarakat membeli hewan kurban. "Hingga sekarang saja sudah terjual 1.500 ekor dari 6.000 ekor yang kita sediakan tahun ini. Puncak penjualan nanti di seminggu terakhir Lebaran. Mungkin orang takut kehabisan," imbuhnya. Sumber : detik.com

Kementan Musnahkan 8.240 Telur asal USA

September 8, 2015
1441596557 BANTEN – Kementerian Pertanian melakukan pemusnahan terhadap 8.240 butir telyr asal Amerika Serikat. Bertempat di Instalasi Karantina Hewan, Balai Besar Karantina Pertanian Soekarno Hatta, kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kepala Balai, M. Musyaffak Farzi dan disaksikan oleh instansi terkait serta pemilik komoditas, Jumat (21/8) Tindakan pemusnahan terhadap media pembawa penyakit hewan (MPPH) asal Amerikat Serikat dilakukan dengan cara pembakaran dalam suhu tinggi di incenerator dan abu kemudian dikubur didalam tanah. Telur yang dikemas dalam dus yang terbungkus rapi ini terkena tindakan karantina dikarenakan jumlah yang melebihi ijin importasi. Petugas Karantina Pertanian Soekarno Hatta telah melakukan seluruh prosedur tindakan karantina pertanian guna memastikan seluruh produk pertanian yang masuk ke Indonesia merupakan produk yang aman dan sehat untuk dikonsumsi Sumber : www.pertanian.go.id

UU Hortikultura Diusulkan Direvisi, BKPM: Sering Ditanya Investor

September 4, 2015September 4, 2015
Jakarta -Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengusulkan adanya revisi Undang Undang Nomor 23 Tahun 2010 tentang Hortikultura (UU Hortikultura). Revisi UU Hortikultura ini merupakan bagian dari usulan BKPM terkait deregulasi atau penyederhanaan aturan yang akan dilakukan pemerintah untuk menggenjot investasi. Saat ini investasi sangat dibutuhkan oleh Indonesia untuk memperkuat perekonomian nasional yang terpukul oleh situasi global saat ini. "Kita mengusulkan adanya telaah terhadap UU Hortikultura. Itu selalu menjadi pertanyaan investor. Pemerintah harus bisa mengusulkan untuk direvisi," kata Kepala BKPM Franky Sibarani usai rapat koordinasi di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (3/9/2015). Ia menjelaskan, ketentuan yang perlu direvisi dalam UU Hortikultura ialah pembatasan kepemilikan asing hanya 30% di bidang usaha hortikultura. Aturan ini membuat investor yang sudah ada harus melakukan divestasi, sebab UU ini berlaku surut. Investor asing yang mau masuk pun banyak yang mengurungkan niatnya akibat pembatasan kepemilikan tersebut. "Salah satu yang menghambat investasi di bidang hortikultura adalah UU ini, terutama ketentuan batas kepemilikan 30 persen," ucapnya. Menurutnya, kewajiban melakukan divestasi membuat investor asing bingung. Ketentuan itu membuat aturan menjadi tidak pasti, sebab tidak ada pembatasan kepemilikan 30% ketika investor masuk bertahun-tahun yang lalu. "Dalam konteks kepastian, kita tentu harus bisa melindungi investasi yang sudah eksis. Penting untuk memberikan kepastian," tandasnya. Akibat adanya ketentuan divestasi tersebut, banyak investor asing di bidang hortikultura yang kabur. Padahal cukup banyak investor asing yang berminat menanamkan modalnya di bidang ini. Ia menyebut banyak calon investor asing dari Uni Eropa dan Australia yang sebenarnya berminat pada bidang hortikultura. "Investor di hortikultura berkurang karena dia harus melakukan divestasi. Anda bayangkan kalau UU itu bisa berlaku surut. Kepastian berusaha itu penting. UU itu menyebabkan kegelisahan," tutupnya.   Sumber : detik.com

Harga Kedelai Impor Naik, Tapi Kedelai Lokal Malah Anjlok

September 1, 2015September 1, 2015
Jakarta -Kementerian Pertanian (Kementan) mengungkapkan, harga kedelai lokal di tingkat petani saat ini justru anjlok hingga di bawah Rp 6.000/kg. Sementara di sisi lain, harga kedelai impor justru melonjak sampai di atas Rp 7.000/kg akibat menguatnya nilai dolar Amerika Serikat (AS) hingga Rp 14.000. "Ini memang agak paradoks, harga kedelai petani kita turun saat panen. Di Klaten panen 200-an hektar itu cuma Rp 6.000/kg. Padahal dolar naik membuat harga kedelai impor agak naik. Per kemarin harga kedelai impor Rp 7.000/kg," kata Dirjen Tanaman Pangan Kementan, Hasil Sembiring, saat ditemui di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (27/8/2015). Tak hanya di Klaten, Jawa Tengah, harga kedelai juga jatuh di sentra-sentra-sentra lainnya. Di luar Jawa, harga kedelai terperosok lebih parah lagi. Di Pidie Jaya, Nanggroe Aceh Darussalam, harga kedelai hanya Rp 4.500/kg di tingkat petani. Begitu juga di Sulawesi Selatan (Sulsel). "Saya kemarin dapat informasi dari Kadis Pertanian Pidie Jaya, kedelai petani di sana hanya dihargai Rp 4.500/kg. Saya dapat telepon juga dari Kadis Pertanian Sulsel, harga kedelainya turun," tutur Hasil. Dia mengungkapkan, kerugian petani kedelai akibat kejatuhan harga ini sangat besar. Biaya yang dikeluarkan petani untuk menanam kedelai mencapai Rp 7.000/kg, sementara harga jualnya saat ini di bawah Rp 6.000/kg. "Petani kedelai pasti rugi. BEP-nya (Break Event Point) itu sekitar Rp 7.000/kg," katanya Untuk mendongkrak harga di tingkat petani, pihaknya telah mengusulkan kepada Kementerian Perdagangan (Kemendag) agar menaikkan Harga Beli Petani (HBP) kedelai yang ditetapkan melalui Permendag menjadi Rp 8.000/kg. Saat ini, HBP kedelai masih Rp 7.700/kg. "Ibu Dirjen PDN (Perdagangan Dalam Negeri) Kemendag sudah memberikan surat, HBP kedelai sampai akhir September Rp 7.700/kg. Kita mengajukan HBP Rp 8.000/kg," cetusnya. Sumber : detik.com

Hingga Agustus, Penyaluran Benih Subsidi ke Petani Baru 6%

September 1, 2015
Jakarta -Kementerian Pertanian (Kementan) menuturkan bahwa penyaluran benih subsidi masih sangat minim. Hingga pertengahan Agustus, realisasi penyaluran benih subsidi baru sekitar 6%. Tahun ini pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 939,4 miliar untuk benih subsidi. Dana ini akan digunakan untuk subsidi benih padi inbrida sebanyak 98.500 ton dengan luas areal 3,9 juta hektar, benih padi hibrida 1.500 ton untuk lahan 100 ribu hektar. Juga untuk 1.500 ton benih jagung hibrida dengan luas lahan 100 ribu hektar dan 15 ribu ton benih kedelai untuk lahan 300 ribu hektar. Dengan adanya benih subsidi, biaya produksi yang ditanggung petani bisa ditekan sehingga penghasilannya bertambah. Sebagai gambaran, petani hanya membeli benih padi inbrida yang disubsidi seharga Rp 3.050/kg, padahal harga benih padi inbrida di pasar bebas mencapai kisaran Rp 9.000/kg. Untuk pengadaan dan penyaluran benih subsidi, pemerintah telah menunjuk PT Sang Hyang Seri (SHS) dan PT Pertani (Persero). Kedua ditunjuk langsung dengan Perpres Nomor 172 Tahun 2015. Penunjukan langsung bertujuan agar pengadaan dan penyaluran benih bisa lebih cepat realisasinya, tiba tepat pada waktu memasuki masa tanam. Sayangnya, penunjukan langsung ini belum terlihat manfaatnya. "Saya lihat memang penyalurannya relatif rendah, baru 6% sampai Agustus ini," kata Dirjen Tanaman Pangan Kementan, Hasil Sembiring, saat ditemui di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (27/8/2015). Hasil beralasan, penyaluran benih subsidi masih rendah karena dinas-dinas pertanian di daerah lebih memilih untuk merealisasikan bantuan benih gratis terlebih dahulu. "Tapi ini karena orang lebih memilih mengambil bantuan benih gratis dulu, kalau ini (benih subsidi) kan beli," tuturnya. Sumber : detik.com

Mentan dan Asosiasi Feedlot Sepakat Harga Daging Hidup Rp 38 Ribu/Kg

August 31, 2015August 31, 2015
1440383658 JAKARTA - Menteri Pertanian, Amran Sulaiman mencapai kesepakatan dengan Asosiasi Produsen Daging dan Feedlot Indonesia (APFINDO) harga daging sapi hidup di harga Rp 38 ribu per kilogram. Kesepakatan ini dicapai setelah terjadi kehebohan harga daging sapi yang melonjak tinggi yang mengakibatkan aksi mogok pedagang daging sapi. Di tingkat feedloter, harga daging sapi bobot hidup tak boleh lebih dari Rp 38.000/kg. Sebelumnya harga sapi bobot hidup di feedloter mencapai Rp 42.000-45.000/Kg. "Damai itu indah, harga ini sudah kita sepakati pas dan sesuai. Semua hal yang dikhawatirkan para asosiasi itu tidak akan terjadi. Kementan tidak akan mengambil tindakan jika tidak dilakukan tindakan yang merugikan," ujar Mentan di Kementerian Pertanian, Jakarta, jumat (21/8). Mentan Amran menambahkan, pihaknya dan pengusaha juga akan membentuk tim kecil yang beranggotakan 4-5 orang untuk mengomunikasikan permasalahan daging sapi bersama para pihak-pihak yang terkait. "Saya minta tim ini mendatangi saya meski saat berada di lapangan atau kunjungan kerja. Pokoknya permasalahan harus selesai secepatnya tidak menunggu saya ada di kantor," ungkap Mentan. Mentan berharap, dengan adanya komunikasi yang intens, permasalahan di lapangan bisa segera diselesaikan bersama sehingga tak ada lagi lonjakan harga daging sapi. Bahkan, harga ini diharapkan bertahan meski menjelang hari besar Idul Adha. "Kita sepakat harga 38.000/kg. Semoga dengan adanya kesepakatan ini, gejolak harga daging sapi segera mereda. Masyarakat pun diminta tak lagi resah, stok cukup dan harga normal," katanya. Meski ada kesepakatan ini, Mentan menegaskan pemerintah belum akan menambah alokasi izin impor sapi bakalan triwulan III-2015 sebanyak 50.000 ekor. Namun, pemerintah berencana akan membuka izin impor sapi 200.000-300.000 ekor pada triwulan IV-2015 untuk kebutuhan triwulan I-2016. Untuk informasi, Kementan mencatat dari 35 anggota AFPINDO, pada akhir Juli 2015 lalu terdapat stok sapi bakalan sebanyak 178.000 ekor. dan stok tersebut bisa memenuhi kebutuhan daging sapi selama empat bulan ke depan. Sebelumnya, Mentan Amran mengatakan tidak akan memberikan rekomendasi impor bagi pengusaha penggemukan sapi (fedlotter) yang diketahui "nakal" atau terlibat dalam kartel daging sapi. "Itu (fedlotter yang nakal) menjadi pertimbangan, saya katakan kalau secara pribadi saya tidak keluarkan rekomendasi, tapi kami lihat regulasi yang ada di Kementerian Pertanian," katanya. Dirinya menegaskan, pihak-pihak yang terbukti melakukan penahanan stok daging sapi untuk didistribusikan harus ditindak tegas. "Kalau ada yang terbukti itu kan domainnya KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha), kepolisian, kalau ada yang terbukti kami minta ditindak tegas," pungkasnya.

Kurangi Dampak Kemarau ke Pertanian, Hujan Buatan Disiapkan di Jawa

August 28, 2015August 28, 2015
123927_hujanbuatanJakarta -Kemarau panjang akibat dampak El Nino yang melanda sentra-sentra produksi padi di Pulau Jawa mendorong pemerintah melakukan hujan buatan. Beberapa daerah menjadi titik fokus untuk dibuat hujan buatan oleh pemerintah. Hujan buatan dilakukan Kementerian Pertanian (Kementan) bekerjasama dengan TNI AU, Badan Penelitian dan Pengembangan Teknologi (BPPT), dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Kepala UPT Hujan Buatan BPPT Heru Widodo mengatakan, hujan buatan hari ini akan menyasar wilayah sepanjang Pulau Jawa dari titik Kota Bandung hingga Semarang. "Daerahnya itu yang dilewatin (Bandung-Semarang). Titik pasnya salah satunya di Kebumen, tapi itu lewat banyak daerah, kalau awan bagus sebelum sampai ke tujuan kita juga bisa semai dulu," kata Heru pada detikFinance ditemui di Lanud Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Selasa (25/8/2015). Menurut Heru, pihaknya menargetkan seluruh Pulau Jawa bisa dilakukan hujan buatan untuk meminimalkan dampak kekeringan panjang akibat El Nino tersebut. Target tersebut akan selesai hingga 90 hari ke depan karena puncak El Nino diperkirakan akan terjadi pada September nanti. "Titik-titiknya belum. Wilayah mana saja yang nanti akan dilakukan hujan buatan masih menunggu rapat. Frekuesi hujan buatan juga melihat kondisi awan," katanya. Sementara untuk pendanaan, lanjut Heru, semua dialokasikan oleh dana siaga bencana alokasi BNPB. "Jumlah dana setiap satu hujan buatan belum kita hitung. Kan ada alokasi untuk bahan bakar, bahan semai, dan personel. Tapi dana dari BNPB semua, kita hanya pelaksana," jelas Heru. Untuk hujan buatan kali ini, TNI AU mengerahkan 1 pesawat angkut CN-295 yang bakal membawa 2,8 ton garam yang disebar di ketinggian di atas 10.000 meter. Sumber : detik.com

Gliocompost Formula Ajaib Untuk Gladiol

August 27, 2015August 27, 2015
Ajaib! Begitulah kesan pertama melihat kemampuan kerja sebuah formula bernama Gliocompost. Fungisida ini mampu mengendalikan serangan penyakit berbagai tanaman hortikultura dan berfungsi juga sebagai pupuk organik. Untuk tanaman hias Gladiol, inovasi ini sangat efektif dalam mengendalikan penyakit layu fusarium. Pada tahun 2010 Blithi telah merakit biofungisida berbentuk tepung berbahan aktif Gliocladium sp., berbahan pembawa bahan organik yang diberi nama Gliocompost. Biofungisida ini bisa berperan sebagai pupuk hayati dan fungisida yang sangat efektif mengendalikan berbagai patogen tanaman seperti fusarium, oxysporum f. Sp dianthy pada anyelir dan F oxysporum f.sp cubence pada pisang, dan penyakit darah (R.solanacearum) pada pisang. Gliocompost telah diaplikasikan pada tanaman cabai, padi dan pisang skala super impose dan demplot. Hasilnya menunjukkan bahwa Gliocompost konsisten dapat menekan penyakit layu dan busuk buah serta dapat mempertahankan hasil panen cabai sebanyak 13,40%. Gliokompost juga telah aplikasi pada tanaman gladiol skala demplot dilahan Abdul Wadud, Petani Tanaman Hias di Kampung Palasari, Desa Sudajaya Girang, Kecamatan Salabintana, Kabupaten Sukabumi. Penggunaan Gliocompost pada budidaya Gladiol, baik melalui metode Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi) maupun petani menunjukkan hasil yang lebih baik bila dibandingkan dengan tanpa menggunakan Gliocompost. Hal tersebut diindikasikan oleh jumlah bunga, diameter bunga, dan persentase tanaman berbunga yang lebih tinggi. Sebagai pupuk hayati, Gliocompost adalah bahan organik yang kaya akan unsur hara mikro dan makro, serta berbagai mikroba tanah berperan dalam penyediaan dan penyerapan unsur hara bagi tanaman. Hal tersebut telah dibuktikan melalui penelitian kerjasama antara Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) dan Komisi Inovasi Nasional (KIN). Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa Gliocompost dapat meningkatkan hasil panen cabai keriting hingga 22,40%, lebih tinggi bila dibandingkan dengan perlakuan pupuk hayati lainnya  Produk LIPI, IPB dan BPPT. Hal ini disebabkan bahan aktif Gliocompost diperkaya dengan mikroba pemicu pertumbuhan tanaman/Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR). Penambahan Gliocompost pada varietas gladiol hasil penelitian Balithi mampu mempercepat waktu panen bunga menjadi 60 hari setelah tanam (lebih awal) dibandingkan tanpa penambahan Gliokompos juga mampu menurunkan persentase serangan penyakit layu fusarium sebesar 6,9 persen dibanding tanpa penambahan gliocompost. Sumber : litbang.pertanian.go.id

Produksi Padi 2015 Terbesar Selama 10 Tahun Terakhir

August 27, 2015
Jakarta -Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengatakan produksi beras nasional tahun ini akan mencapai yang terbesar dalam 10 tahun terakhir. Hal ini berdasarkan angka ramalan (Aram) I yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS). Dalam Aram I BPS, total produksi beras nasional diperkirakan akan mencapai 75,56 juta ton gabah kering giling (GKG), atau mengalami surplus sebesar 10,56 juta ton beras. "BPS keluarkan pengumuman, bahwa hingga Juli produksi padi kita terbesar tahun ini selama 10 tahun terakhir. Secara bersamaan kita juga ada kenaikan produksi kedelai dan jagung," katanya di kantor Kementan, Ragunan, Jakarta, Rabu (26/8/2015). Amran mengungkapkan, data yang dikeluarkan BPS tersebut sudah akurat sehingga tak perlu diragukan, hanya perlu realisasi di lapangan. Angka produksi beras BPS, dilakukan dengan melihat produksi beras yang sudah dipanen sejak April dan ramalan potensi produksi beras dari lahan tanam yang ada. "Ada yang bilang, tidak mungkin produksi setinggi itu. Bapak kalau tidak percaya BPS, sekarang bagaimana bapak bilang itu data salah. Masa data BPS salah. BPS juga dibangun puluhan tahun dilengkapi personil ribuan orang, dihitung di ribuan desa, dengan metode modern nggak asal keluar data," tegas Amran di depan para petani. Surplus produksi ini, menurut Amran, membuat kementeriannya yakin surplus beras bisa menutup defisit 30.000 hektar lahan yang gagal panen akibat El Nino sepanjang 2015. "Kemudian terakhir setelah produksi kita naik saya jamin tidak ada lagi impor. Sudah banyak yang kita berhasil selesaikan," pungkasnya. Sumber : detik.com

Mulai Februari 2016, RI Perketat Impor Buah dan Sayur

August 26, 2015August 26, 2015
Jakarta -Mulai Februari tahun depan, Kementerian Pertanian (Kementan) mulai memperketat proses masuknya buah dan sayur impor, termasuk bahan pangan seperti gandum dari negara yang belum memenuhi standar laboratorium penguji keamanan Pangan Segar Asal Tumbuhan (PSAT). Ketentuan ini berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 4/PP340/2/2015 tentang pengawasan keamanan pangan terhadap pemasukan dan pengeluaran pangan segar asal tumbuhan. Permentan ini ditandatangani Mentan Amran Sulaiman dan diundangkan mulai 17 Februari, berlaku efektif setelah setahun diundangkan atau 17 Februari 2016. Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Badan Karantina Kementan Antarjo mengungkapkan, larangan ini berlaku bagi semua negara pengekspor buah dan sayur, termasuk tanaman pangan yang sampai saat ini belum memenuhi uji laboratorium yang ditetapkan Badan Karantina. "Uji lab pada barang-barang yang akan masuk ke Indonesia ini bisa dilakukan dengan negara asal, tetapi dengan syarat yang kriterianya kita tentukan. Dan ini sudah umum dilakukan di banyak negara," jelas Antarjo pada detikFinance di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Selasa (24/8/2015). Dengan regulasi ini, menurut Antarjo, Indonesia hanya mengizinkan impor buah berasal dari 4 negara yang sudah diakui Indonesia telah melakukan pengawasan laboratorium sesuai standar Codex International Food Standards (CIFS) yang ditetapkan Badan Kesehatan Dunia (WHO). Empat negara tersebut yakni Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan New Zealand. Sementara negara eksportir di luar 4 negara tersebut, harus mendaftarkan komoditas hayatinya pada WHO agar bisa masuk ke pelabuhan Indonesia. "Atau bisa juga tanpa harus lolos sebagai negara yang diakui dengan penerapan pengawasan tinggi yang ditetapkan CIFS, negara eksportir juga bisa melakukan uji lab sendiri tapi dengan standar yang ditetapkan Badan Karantina," terang Antarjo. Sumber : detik.com

Kurangi Dampak Kemarau ke Pertanian, Hujan Buatan Disiapkan di Jawa

August 25, 2015August 25, 2015
123927_hujanbuatanJakarta -Kemarau panjang akibat dampak El Nino yang melanda sentra-sentra produksi padi di Pulau Jawa mendorong pemerintah melakukan hujan buatan. Beberapa daerah menjadi titik fokus untuk dibuat hujan buatan oleh pemerintah. Hujan buatan dilakukan Kementerian Pertanian (Kementan) bekerjasama dengan TNI AU, Badan Penelitian dan Pengembangan Teknologi (BPPT), dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Kepala UPT Hujan Buatan BPPT Heru Widodo mengatakan, hujan buatan hari ini akan menyasar wilayah sepanjang Pulau Jawa dari titik Kota Bandung hingga Semarang. "Daerahnya itu yang dilewatin (Bandung-Semarang). Titik pasnya salah satunya di Kebumen, tapi itu lewat banyak daerah, kalau awan bagus sebelum sampai ke tujuan kita juga bisa semai dulu," kata Heru pada detikFinance ditemui di Lanud Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Selasa (25/8/2015). Menurut Heru, pihaknya menargetkan seluruh Pulau Jawa bisa dilakukan hujan buatan untuk meminimalkan dampak kekeringan panjang akibat El Nino tersebut. Target tersebut akan selesai hingga 90 hari ke depan karena puncak El Nino diperkirakan akan terjadi pada September nanti. "Titik-titiknya belum. Wilayah mana saja yang nanti akan dilakukan hujan buatan masih menunggu rapat. Frekuesi hujan buatan juga melihat kondisi awan," katanya. Sementara untuk pendanaan, lanjut Heru, semua dialokasikan oleh dana siaga bencana alokasi BNPB. "Jumlah dana setiap satu hujan buatan belum kita hitung. Kan ada alokasi untuk bahan bakar, bahan semai, dan personel. Tapi dana dari BNPB semua, kita hanya pelaksana," jelas Heru. Untuk hujan buatan kali ini, TNI AU mengerahkan 1 pesawat angkut CN-295 yang bakal membawa 2,8 ton garam yang disebar di ketinggian di atas 10.000 meter. Seumber : detik.com

Banyak Mafia Pangan di RI, Tapi Sulit Ditangkap

August 25, 2015
Jakarta -Peneliti Institute for Development and Economic Finance (Indef) Bustanul Arifin mengungkapkan, mafia pangan di Indonesia, seperti mafia daging sapi, mafia beras, mafia bawang, terasa keberadaanya, tapi sulit untuk membuktikannya secara hukum. Sebab, hukum Indonesia belum mengenalindirect evident alias bukti tidak langsung. Menurutnya, mafia pangan sulit dibuktikan dengan bukti langsung alias bukti fisik, karena persekongkolan untuk mengendalikan harga dan pasokan dilakukan tanpa dokumen tertulis. "Landasan hukum kita belum mengenal hal apa yang disebut indirect evident. Kita baru mengenal bukti fisik, bukti langsung. Mana ada orang yang bersekongkol memainkan harga ada bukti fisiknya?" ujar Bustanul ditemui di Kantor Indef, Jakarta, Senin (24/8/2015). Ketiadaan landasan hukum untuk bukti tidak langsung ini, diperparah oleh lemahnya wewenang yang dimiliki Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). KPPU tidak memiliki wewenang untuk melakukan penyadapan, sehingga sangat sulit untuk memperoleh bukti fisik. "Kalau saya usul, KPPU diberi kewenangan menyadap," kata Bustanul. Dia berpendapat, mafia pangan memang ada di Indonesia. Indikatornya sangat jelas, sering terjadi pasokan melimpah, harga jatuh di tingkat petani, namun harga pangan di pasar tetap tinggi. "Kalau indikasinya, mafia itu ada. Bahasa ekonominya kartel, oligopoli, oligopsoni yang berusaha memengaruhi harga," paparnya. Dia mencontohkan, anomali harga daging sapi dalam beberapa tahun terakhir sejak 2013, impor sapi dibuka selebar-lebarnya, pasokan melimpah, tapi harga tak pernah berada di bawah Rp 100.000/kg di pasaran. "Mana mungkin ada alasan ketika impor dibuka selebar-lebarnya tapi harga tidak turun?" ungkapnya. Sumber : detik.com

Indonesia, Sawah Gagal Panen Bertambah 70% Jadi 30.000 Hektar

August 25, 2015
  Jakarta -Akibat kemarau panjang yang berdampak 200.000 hektar areal persawahan padi, Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan saat ini tercatat sudah ada 30.000 hektar sawah yang gagal panen atau puso. Jumlah ini terus bertambah dari data sebelumnya, atau hampir naik 70% dari posisi pertengahan Agustus. "Tadi di rapat pimpinan, terakhir laporan kan ada 25.000 hektar, saat kita catat puso sudah 30.000 hektar. paling banyak di daerah penghasil padi tentunya yang ada di Jawa Tengah dan Jawa Barat," kata Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman ditemui di kantor Kementan, Jalan RM Harsono, Ragunan, Jakarta, Senin (24/8/2015). Amran mengungkapkan, dampak kekeringan akibat fenomena El Nino ini hanya terjadi daerah bagian Selatan Khatulistiwa. Sementara untuk daerah pertanian yang berada di sisi Utara Ekuator justru hampir tidak mengalami kekeringan yang berarti. Ia juga menyebut, aksi bagi-bagi pompa air dan pembangunan embung oleh Kementan telah berhasil menyelamatkan puluhan ribu hektar di Jawa Tengah dan Jawa Timur terbebas dari dampak El Nino. "Karena puso nambah kering. Tapi yang dari evaluasi ini teman-teman bekerja luar biasa. Kita menyelamtakan puluhan ribu hektar, di Grobogan bangun 1000 embung, ada juga Indramayu 11.000 hektar berhasil diairi. Di Cirebon, Pati, Bojongnegoro juga, pokoknya semua potensi sumber daya kita maksimalkan," tutup Amran. Amran mengatakan pihaknya selama ini tak dinggal diam. Sudah ada beberapa upaya konkret di lapangan. "Kita memang kehilangan 25.000-30.000 hektar, tapi kita melakukan juga percepatan tanam baru di Kalimantan dan Sumatra yang tidak terkena El Nino. Alhamdulillah lahan puso digantikan tambahan tanam April-September sebesar 260.000 hektar (area tanam)," kata Amran. Sumber : detik.com

Mentan Pilih Impor Sapi Bakalan untuk Alokasi Akhir 2015

August 21, 2015August 21, 2015
Jakarta -Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa stok sapi di dalam negeri masih cukup hingga akhir tahun ini sehingga tak perlu tambahan pasokan sapi impor. Impor sapi yang akan dikeluarkan akhir tahun untuk kebutuhan awal 2016 dalam bentuk sapi bakalan atau perlu digemukan. Ia menuturkan, beberapa waktu lalu dirinya telah mengecek stok sapi langsung ke tempat penggemukan sapi atau feedloter. Total ada stok 198 ribu ekor sapi alias cukup hingga akhir tahun. Di dua feedloter yang dikunjunginya saja, di Banten dan Cianjur, ada 40 ribu ekor sapi. Karena itu, menurutnya, harusnya pasokan daging sapi cukup dan harga tidak melambung sampai Rp 130.000/kg. Amran mengklarifikasi bahwa tambahan impor 200.000-300.000 ekor sapi yang disebut oleh Menteri Perdagangan Thomas Lembong adalah untuk kebutuhan pada awal tahun depan, bukan untuk kebutuhan hingga akhir tahun ini. Jumlah sapi yang diimpor pun masih akan dihitung lebih lanjut. "Untuk tahun ini kan cukup. Itu untuk persiapan kuartal berikutnya. Tapi itu tetap kita kaji, belum tentu 200.000 ekor, kita kaji lagi," kata Amran usai pertemuan dengan para peternak unggas di Kantornya, Jakarta, Kamis (28/8/2015). Ia menjelaskan bahwa yang akan diimpor adalah sapi bakalan, bukan sapi siap potong. Izin akan dikeluarkan pada kuartal IV (Oktober-Desember) ini untuk memenuhi kebutuhan pada awal tahun 2016. Sapi bakalan yang diimpor akan digemukan dulu selama 3 bulan dan dipotong sekitar Januari-Maret 2016. "Bukan sapi siap potong. Apapun ceritanya, kalau sekarang datang kan harus dipelihara 3 bulan," ucapnya. Sumber : detik.com

Mendag Lembong Akan Selektif Beri Izin Impor Sapi ke Importir

August 21, 2015
Jakarta -Menteri Perdagangan (Mendag) Thomas Lembong siap membuka izin impor sapi sebagai langkah untuk menstabilkan harga daging di dalam negeri. Lembong menegaskan tidak akan sembarangan mengeluarkan izin untuk para importir atau feedloter. "Walaupun saya siap keluarkan izin impor,‎ tidak akan saya bagi-bagi sembarangan," kata Lembong di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (19/8/2015) Lembong akan berkoordinasi dengan Menteri Pertanian Amran Sulaiman dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) beserta aparat hukum dalam pengambilan keputusan.‎ Untuk memastikan importir tersebut layak mendapatkan izin. Selama ini ada dugaan beberapa importir atau perusahaan penggemukan sapi (feedloter) menahan stok sapi bakalan yang sudah siap potong. "Mohon pelaku usaha harmonis dengan pak Mentan. Karena saya akan cek dulu ke pak Mentan. Pak Mentan sudah koordinasikan ke KPPU dan lembaga hukum. Saya akan pastikan apakah pelaku ini baik atau nakal," jelas Lembong. Alasannya dibukanya keran impor, ‎menurut Lembong adalah untuk stabilisasi harga daging sapi. Sehingga ketika impor sudah direalisasikan, dan harga daging sapi tidak juga stabil, maka kalangan dunia usaha yang harusnya bertanggung jawab. "Pokoknya izin impor kita prioritaskan kepada pelaku usaha (importir) yang baik,"‎ katanya. Lembong sebelumnya akan mengeluarkan izin impor sapi sebanyak 200.000-300.000 ekor untuk kebutuhan akhir tahun. Namun belum dipastikan alokasinya untuk sapi bakalan, siap potong atau indukan. Selain itu, belum ada kepastian berapa porsi yang akan diberikan kepada Perum Bulog atau importir swasta. Sumber : detik.com

Mentan Amran Masih Hitung Soal Rencana Impor Sapi 300.000 Ekor

August 20, 2015August 20, 2015
Jakarta -Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengaku telah berkomunikasi dengan Menteri Perdagangan (Mendag) Thomas Lembong soal adanya rencana menambah pasokan sapi impor hingga 300.000 ekor termasuk sapi siap potong hingga akhir tahun. Namun Amran belum sepakat dengan jumlah tambahan impor yang diusulkan mendag. Amran meminta adanya diskusi lebih lanjut soal jumlah sapi impor yang akan dikeluarkan, sehingga perlu dihitung lagi. "Kalau komunikasi iya, sejak beliau (Thomas Lembong) jadi menteri kami langsung komunikasi. Tapi kami diskusikan lagi (soal tambahan impor sapi)," kata Amran usai pertemuan dengan GPMT di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (19/8/2015). Amran enggan membeberkan hasil diskusinya dengan Mendag Lembong. Menurutnya, jumlah tambahan sapi yang akan diimpor harus benar-benar dihitung agar tak merugikan peternak sapi lokal. "Nanti kami diskusikan dengan menteri perdagangan. Nanti kita hitung bersama," tandasnya. Sebelumnya, pemerintah berencana menambah alokasi impor sapi untuk sisa akhir tahun (triwulan IV-2015) sebanyak 200.000-300.000 termasuk sapi siap potong. Alokasi ini pun belum dipastikan untuk Bulog saja atau juga swasta. Tambahan impor sapi ini untuk mengantisipasi lonjakan harga daging sapi di dalam negeri khususnya Jabodetabek yang sudah menembus Rp 120.000 per kg. Sebelumnya pemerintah telah mengizinkan Perum Bulog mendatangkan 50.000 ekor sapi siap potong. Bulog akan menjadi pemain utama sapi impor. "Untuk sisa tahun ini kita mungkin bisa impor 200.000-300.000 ekor. Jadi kami sepakat dan kami masih menjalankan prosesnya. Ini untuk sampai sisa tahun," kata Menteri Perdagangan (Mendag) Thomas Lembong. Tom mengatakan, opsi impor sapi ini sudah didiskusikan bersama Kementerian Pertanian. Pemerintah siap mengguyur pasar dengan sapi impor untuk menekan harga daging sapi agar tidak melambung. "Jadi kemarin saya dan Mentan sudah bicara dan kita siap untuk guyur pasar," kata Tom. Sumber : detik.com

Kemarau Tahun Ini Mendekati Kondisi El Nino Dahsyat 1997

August 3, 2015August 3, 2015
Jakarta -Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengakui tingkat El Nino di Indonesia tahun ini mulai meningkat dari moderat ke kondisi kuat. Bahkan tahun ini diperkirakan El Nino mendekati kondisi kemarau parah yang melanda Indonesia di 1997. "Kondisi akan berkembang mendekati El Nino 1997, tahun ini El Nino sampai Oktober akhir. Perkirakan menguat mulai Agustus. Kami sampaikan presentasi dampak el nino potensi turunnya hujan mulai Oktober mendatang," kata Kepala BMKG Andi Eka Satya, usai rakor di Kementerian Pertanian, Senin (3/8/2015) Ia mengatakan dampak El Nino paling terasa di selatan khatulistiwa seperti Lampung Timur, Jawa, dan Bali hingga timur Indonesia. Curah hujan sangat sedikit di bawah 100 mm akan terjadi di daerah tersebut Agustus-Oktober. "Kondiai akan kurang air, curah hujan sangat berkurang sekali. Langkah antisipasi dengan membangun embung, pompa, dan irigasi sangat jauh lebih baik dari antisipasi El Nino 1997," katanya. Menurutnya antisipasi pemerintah tahun ini dalam hal penanggulangan kemarau khususnya sektor pertanian jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. "Meski kondisi El Nino sama seperti 1997, antisipasinya lebih baik. Langkah-langkahnya lebih sigap. Dampaknya bisa diminimalkan," katanya. Saat ini, Indonesia sedang dihadapi fenomena El Nino level moderat yang masih berpeluang menguat. BMKG hingga Pusat Perkiraan Iklim Amerika (Climate Prediction Center) mencatat sejak tahun 1950, di Indonesia telah terjadi setidaknya 22 kali fenomena El Nino, 6 kejadian diantaranya berlangsung dengan intensitas kuat. El Nino kuat berlangsung pada 1965, 1972, 1982, 1991, 1997, dan 2009. Dilihat dari jarak terjadinya, tidak memperlihatkan siklus berulang tiap 5, 10 atau 15 tahun. Sebab Indonesia pernah punya catatan El Nino terburuk pada 1997 dan 1982. Tiga El Nino kuat terakhir terjadi dari 1991, berselang kembali terjadi 6 tahun kemudian pada 1997 dan terulang 12 tahun kemudian pada 2007. "Sebelum ini yang paling dahsyat pada tahun 1997. Saat itu pemerintah sampai mengeluarkan status bencana alam," kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG Widodo Sulistyo, saat dihubungi Jumat (24/7/2015). Sumber : detik.com

Mentan Amran Yakin Tahun Ini Produksi Beras Surplus 5 Juta Ton

July 30, 2015July 30, 2015
Sidoarjo -Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman optimistis produksi beras tahun ini bisa surplus lebih dari 5 juta ton, atau di atas ramalan Badan Pusat Statistik (BPS). Sebelumnya BPS memprediksi produksi padi Indonesia di tahun ini bakal mencapai 75,55 juta ton gabah kering giling (GKG). Ramalan ini naik 6,64% dibandingkan produksi tahun lalu yang mencapai 70,85 juta ton GKG. "Sesuai angka ramalan BPS ada peningkatan produksi ke depan. Itu tanpa lakukan gerakan saja ada surplus 5 juta ton," ujar Amran ditemui di usai panen padi di Desa Kalimati, Kecamatan Tarik, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis (30/7/2015). Dengan berbagai upaya khusus (Upsus) yang dilakukan Kementerian Pertanian sejak awal tahun, ia yakin surplus produksi beras akan jauh lebih banyak. "Apalagi saat ini ada gerakan, bisa bertambah," kata Amran. Apalagi kata Amran, sudah ada tambahan area tanam sawah sebanyak 400.000 hektar pada Oktober 2014 hingga Maret 2015. "Data BPS, ada tambahan tanam Oktober-Maret 400.000 hektar. Katakanlah kalau El-Nino terberat mengancam 100.000 hektar lahan sawah, artinya masih ada surplus kan," katanya. Sumber : detik.com

Guru Besar IPB Kritik Lumbung Padi Merauke yang Digagas Jokowi

July 29, 2015July 29, 2015
Presiden Joko Widodo (Jokowi) sedang mengembangkan konsep lumbung pangan khususnya padi (food estate) di Merauke, Papua. Hal ini sebagai salah satu cara agar Indonesia mandiri pangan, namun kebijakan ini menuai kritikan. Swasembada beras sulit tercapai bila hanya terkonsentrasi pada lahan di Jawa dan Sumatera. Sehingga menjadi alasan dibentuknya lumbung padi nasional di Papua. Pemerintah melakukan pengembangan Papua sebagai lumbung pangan, tepatnya di Papua bagian selatan khususnya Merauke. Data menunjukkan, ada 2,5 juta hektar lahan potensial untuk pangan dan 1,9 juta hektar lahan basah. Guru Besar Bidang Pangan IPB Dwi Andreas Santosa mengkritik konsep tersebut. Menurutnya, sulit untuk menjadikan Merauke, Papua sebagai lumbung padi, banyak persoalan yang dihadapi. Apalagi secara pengalaman, banyak yang tak berhasil. "Food Estate mendulang kegagalan. Tidak ada sejarah keberhasilan food estate terutama padi di Indonesia. Persoalan sosial yang luar biasa besar," katanya dalam seminar berjudul "CORE 2015 Mid-Year Review: Managing Economic Slowdown", di Graha Sucofindo, Jakarta, Selasa (28/7/2015). Andreas mencoba memaparkan sejarah gagalnya pengembangan lumbung padi di Merauke, Papua beberapa waktu silam. Tahun 1939 pemerintah kerajaan Belanda mengembangkan Kumbe Rice Estate. April 2006, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono panen raya di Merauke dan memunculkan ide Merauke Integrated Rice Estate (MIRE) seluas 1,9 juta hektar. Selengkapnya : detik.com

60.000 Ha Sawah di RI Diprediksi Gagal Panen Akibat El Nino

July 27, 2015July 27, 2015
Cuaca ekstrem panas atau El Nino level moderat melanda Indonesia tahun ini. El Nino ini mengancam produksi pertanian, khususnya sawah produsen padi. Pemerintah perlu mengantisipasi risiko kehilangan produksi akibat gagal panen selama kemarau tahun ini. "Melihat prediksi BMKG tahun ini kita akan dilanda El Nino moderat sampai November-Desember. Itu akan menyebabkan kemunduran masa tanam khususnya padi 1-2 bulan. Dampak mengkhawatirkan yaitu risiko gagal panen sekitar 60.000 hektar (ha) padi sawah," ungkap Dwi Andreas Santosa, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), sekaligus saat ini menjabat Ketua Umum Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI), saat dihubungi detikFinance, Minggu (26/7/2015). Sebelumnya, Kementerian Pertanian mencatat ada 200.000 ha lahan padi sawah terancam kekeringan. Andreas mencatat, luas areal padi sawah terancam kekeringan lebih dari itu. "Kami sudah hubungi seluruh jaringan se-Indonesia, rata-rata 10-20% luas lahan sawah di daerah akan terdampak kekeringan. Luas totalnya terdampak akan mencapai 300.000 ha," tuturnya. Andreas menjelaskan, lahan terdampak kekeringan selain padi sawah tidak kalah mengkhawatirkan. "Lahan sawah non padi (palawija) bahkan sudah kering, termasuk sawah irigasi teknis," ujarnya. Perkiraan Andreas, dari 300.000 ha lahan sawah terdampak kekeringan, seluas 60.000 ha atau 20%-nya akan mengalami puso atau gagal panen. "Ada 60.000 ha puso, itu hanya jika El Nino sampai maksimal Desember dan hujan mulai turun pada bulan itu. Kalau hujan belum turun dan El Nino makin lama, tentu akan lebih luas sawah puso," pungkasnya. Sumber : detik.com

Tak Libur Lebaran, Mentan Fokus Pantau Ancaman Kekeringan

July 23, 2015July 23, 2015
Jakarta -Selama lebaran, Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengaku tidak libur. Dia fokus memimpin rapat untuk memantau ancaman kekeringan yang terjadi di banyak tempat di Indonesia. "Saya selama lebaran nggak ada libur. Selama lebaran, saya 3-4 kali pimpin rapat seperti rapat di Palu dan Makassar," jelas Amran di kantor Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta, Rabu (22/7/2015). Dari pantauannya hingga kini, Amran mengatakan, dirinya belum mendapatkan laporan ada sawah yang gagal panen atau puso karena kekeringan. "Dibandingkan tahun lalu, sekarang masih aman. Kami fokus pantau kekeringan dan melakukan pemetaan wilayah terdampak," jelas Amran. Namun, Amran mengaku mendapatkan keluhan dari Bojonegoro, Jawa Tengah, dan Jawa Barat soal kekeringan ini. Mendengar keluhan itu, Amran mengaku langsung mengirim pompa air. "Stok saat ini ada 12.000 unit pompa. Lalu 30.000 hektar lahan kekeringan sudah kami tangani sebelum lebaran. Laporan kekeringan mulai berkurang, kami proaktif hari ini menyurati dinas kabupaten untuk segera kirim data lahan terancam kekeringan," kata Amran. "Selain pompa, kami sediakan anggaran bangun Embung di Indramayu, Grobogan, Pati, Cirebon, dan Timor Tengah Selatan. Embung ini khusus untuk mengairi sawah dibangun di tengah sawah," ujarnya. Sebelumnya, Ketua Bidang Organisasi Dewan Bawang Nasional, Amin mengatakan, ratusan hektar sawah di Kabupaten Cirebon, dan Indramayu, Jawa Barat terancam gagal panen. Kemarau yang terjadi sejak Mei, memicu menyusutnya pasokan air dari Kabupaten Kuningan, yang menjadi penyuplai air irigasi untuk Indramayu dan Cirebon. Sumber : detik.com

Impor Beras Melonjak 130%, Dipakai Industri dan Restoran

July 22, 2015July 22, 2015
Jakarta -Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Juni 2015 terjadi impor beras sebanyak 49.539.110 Kg atau sekitar 49.539 ton. Angka ini melonjak 130% dibandingkan bulan sebelumnya. Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian (Kementan)‎ Suwandi mengatakan impor tersebut adalah beras menir untuk kebutuhan khusus untuk industri tepung beras dan restoran khusus seperti Jepang dan lainnya. "Data impor beras sebesar 49.000 ton yang dirilis BPS adalah impor beras menir untuk kebutuhan industri dan beras khusus untuk penderita diabetes serta untuk restoran," kata Suwandi kepada detikFinance, Selasa (21/7/2015).‎ Ia mengatakan, meski dilihat dari sisi kenaikan cukup signifikan mecapai 130%, namun secara volume sebenarnya sangat kecil bila dibandingkan produksi beras dalam negeri. Sehingga menurutnya, petani dan pedagang beras tidak perlu khawatir hal tersebut akan mempengaruhi harga beras secara keseluruhan. "Apabila dibandingkan dengan produksi beras 2015 yang dirilis BPS secara nasional sebesar 45 juta ton, maka impor beras itu hanya sbesar 0,1% saja sehingga proporsi sangat kecil sekali. Impor beras itu tidak berpengaruh terhadap harga beras petani dan cadangan beras pengadaan oleh Bulog di dalam negeri," katanya. Ia menegaskan rekomendasi pengadaan beras impor jenis tersebut tidak dikeluarkan oleh Kementan, melainkan di Kementerian Perindustrian (Kemenperin). "Ini adalah beras untuk keperluan khusus seperti yang saya bilang tadi. Untuk Industri, restoran dan kebutuhan khusus lain seperti penderita diabetes. Jadi rekomendasinya tidak di kita tetapi di Kemenperin. Kementam tidak pernah mengeluarkan rekomendasi impor karena produksi dalam negeri kita untuk beras konsumsi sudah lebih dari cukup," katanya. Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ada impor beras sebanyak 49.539 ton dengan nilai mencapai US$ 22,313 juta. Angka ini melonjak dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Misalnya volume impor beras bulan Mei 2015 sebesar 20.903.235 Kg atau 20.903 ton, nilainya US$ 9,623 juta atau ada kenaikan 130% secara volume. Sedangkan impor beras pada Februari 2015 hanya 7.912 ton atau senilai US$ 3,1 juta. Pada Januari 2015, impor beras mencapai 16.600 ton atau US$ 8,3 juta.‎ Sumber : detik.com

Nantinya petani harus punya kartu khusus untuk dapat pupuk subsidi

July 22, 2015
Merdeka.com - Tahun ini pemerintah menyediakan anggaran senilai Rp 39 triliun untuk subsidi pupuk dan bantuan benih senilai Rp 939 miliar. Menteri Pertanian Amran Sulaiman menginstruksikan anak buahnya agar dana tersebut diberikan tepat sasaran. Menteri Amran meminta agar pola distribusi pupuk subsidi disempurnakan dengan sistem distribusi tertutup. Caranya dengan menggunakan kartu khusus bagi petani penerima pupuk subsidi. "Kebutuhan pupuk subsidi tahun depan dengan penyempurnaan pola subsidi pupuk dengan sistem kartu subsidi," ujar Menteri Amran di kantornya, Jakarta, Senin (13/7). Menurutnya, langkah ini sebagai bagian dari program Upaya Khusus (UPSUS) Swasembada pangan sekaligus meningkatkan kinerja produksi tahun 2015. Langkah lainnya, menetapkan pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) dan dampak perubahan iklim untuk perlindungan tanaman perkebunan. "Dengan meningkatkan produksi gula dan kakao, dan segera melakukan antisipasi kebakaran perkebunan di daerah rawan kebakaran," jelas dia. Menteri Amran juga meminta anak buahnya memperbaiki sistem informasi pertanian dari lapangan dan mempercepat delay data. "Saya minta dibangun sistem data satu pintu dengan kualitas kontrol yang baik," ungkapnya. Namun, langkah-langkah itu tidak sepenuhnya menjamin terwujudnya swasembada pangan. Sebab, tantangan ke depan masih cukup berat. Diakui Amran, kekeringan di beberapa daerah, hambatan distribusi komoditi dan situasi ekonomi dunia dan nasional yang belum kondusif membayangi ambisi pemerintah mewujudkan swasembada pangan. Sumber : merdeka.com

RI Masih Impor Garam, Pabrik Garam di NTT Masih Mandek

July 20, 2015July 20, 2015
Jakarta -Sejak 2010 hingga saat ini, rencana pembangunan pabrik garam di Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) belum juga dimulai. Padahal sudah ada kerjasama antara perusahaan Indonesia dengan perusahaan Australia bernama Cheetam Salt Ltd. Menteri Perindustrian Saleh Husin mengatakan, investasi pabrik garam di NTT itu belum bisa berjalan, karena Bupati belum menyediakan lahannya. "Industri garam di NTT bisa terealisir itu kuncinya di Bupati. Oleh karena itu, kami minta agar kepala daerah mempercepat proses penyelesaian lahan. Kalau lahannya selesai, maka industri garam di NTT akan dapat terealisasi. Mau tidak kepala daerahnya menyediakan lahan. Kalau itu tersedia, investor siap masuk," tutur Saleh saat open house di rumah dinas, Kompleks Widya Chandra, Jakarta, Jumat (17/7/2015). Karena itu, lanjut Saleh, kunci dari berjalannya investasi pabrik garam di NTT adalah penyediaan lahan oleh kepala daerah. "Bagaimana kepala daerah dapat menyelesaikan ketersediaan lahan," imbuh Saleh. Seperti diberitakan sebelumnya, dari lahan seluas 1.000 hektar yang dibutuhkan, yang baru tersedia 700 hektar lebih. Cheetam Salt Ltd, perusahaan garam asal Australia awalnya berkomitmen menggandeng pemda NTT untuk menggarap lahan garam di Kabupaten Nagekeo NTT seluas 2.100 hektar. Proyek ini sudah dirancang sejak Juni 2010, namun kini belum terealisasi, dan sempat membuat Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) terdahulu frustasi. Sumber : detik.com

Mentan: RI Importir Beras Tertinggi di Asia

July 15, 2015July 15, 2015
Makassar -Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman melepas pengiriman 1.056 ton beras ke-11 provinsi, di terminal peti kemas Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (14/7/2015). Amran menegaskan tak ingin Indonesia terus-terusan jadi negara importir beras tertinggi di Asia. Pengiriman beras ke-11 provinsi di antaranya DKI Jakarta, Kepulauan Riau, Sumatera Utara, Kalimantan Selatan, Papua dan Aceh, dengan besar kontraknya mencapai Rp 8 miliar untuk jumlah 1.056 ton, dari total kontrak yang disepakati sebanyak 55.000 ton beras kelas premium dengan nilai Rp 429 miliar. Dalam acara pelepasan pengiriman beras Sulsel yang diangkut menggunakan peti kontainer, Mentan didampingi Dirut Perum Bulog Djarot Kusumayakti, Gubernur Sulsel dan wakilnya, Syahrul Yasin Limpo dan Agus Arifin Nu'mang, serta Kapolda Sulselbar Irjen Anton Setiadji. Menurut Mentan saat ini peningkatan hasil produksi beras nasional mencapai rekor tertinggi, yakni meningkat 5,5 juta ton beras, sesuai data Badan Pusat Statistik. Hal ini tidak lepas pula dari suplai beras dari Sulawesi Selatan sebagai lumbung padi nasional yang ikut menyuplai daerah lainnya. "Kalau seluruh provinsi melakukan hal serupa untuk ekspor beras maka kita tidak perlu impor beras, saat ini Indonesia masih importir beras tertinggi di Asia," ujar Amran dalam pidatonya. Dalam acara pelepasan ini, Mentan mengecek langsung beras yang akan dikirim yang sudah disimpan dalam kontainer. Selain itu Amran memantau proses pengangkutan kontainer ke kapal pengangkut peti kemas di Pelabuhan Makassar. Sebelumnya, Mentan juga menghadiri Rakor Swasembada Pangan dan Percepatan Realisasi Anggaran 2015 se-Sulawesi, di Gedung LAN, Antang, Makassar, yang dihadiri seluruh Dandim se-Sulawesi. Tahun lalu, pemerintah melalui Perum Bulog mengimpor beras medium sebanyak 50.000 ton. Selain itu, tercatat masih ada impor beras pada awal tahun untuk jenis premium khususnya pada Februari 2015. Sumber : detik.com

Jelang Lebaran, Mentan Lantik Eselon II Untuk Mencapai Swasembada Pangan

July 14, 2015July 14, 2015
JAKARTA – Ciri organisasi yang selalu dinamis terlihat dalam acara Pelantikan Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama lingkup Kementerian Pertanian yang dilakukan hari ini di Aula Gedung F, Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Senin (13/7). Pelantikan yang dilakukan walaupun menjelang Hari Raya Idul Fitri ini adalah salah satu jawaban diharapkannya pejabat yang mumpuni untuk mencapai swasembada pangan. “Tugas percepatan pencapaian swasembada pangan membutuhkan pejabat yang pekerja keras, memiliki komitmen tinggi, mempunyai leadership yang tangguh” ungkap Menteri Pertanian, Amran Sulaiman dalam sambutannya. Dari sembilan bulan program Upaya Khusus dijalankan, telah ada indikasi keberhasilan dengan keadaan pasokan yang cukup stabil dari pembatasan impor, penguraian rantai pasok, yang semuanya tidak dapat dilakukan dengan kerja yang biasa. Dari pelantikan para pejabat tersebut, Mentan mengharapkan kerja nyata mewujudkan produksi tahun 2015 sesuai dengan Angka Ramalan I BPS. Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor: 466/Kpts/KP.230/7/2015, Tanggal: 13 Juli 2015, tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Pimpinan Tinggi Pratama Lingkup Kementerian Pertanian telah menetapkan enam orang Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama Kementerian Pertanian: 1. Dr. Ir. Muhrizal, M.Sc sebagai Direktur Pupuk dan Pestisida, Direktorat jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, 2. Dr. Ir. Widi Hardjono, M.Sc sebagai Kepala Pusat Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian, 3. Ir. Laurensius Sihaloho, MBA sebagai Sekretaris Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, 4. Dr. Ir. Suwandi, M.Si sebagai Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Sekretariat Jenderal, 5. Dr. Ir. Fadjry Djufry, M.Si sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 6. Drs. Dudi Gunadi, B.Sc., M.Si sebagai Direktur Perlindungan Perkebunan, Direktorat Jenderal Perkebunan. Sumber : www.pertanian.go.id

Mulai Agustus, 30.000 Ekor Sapi Impor Akan Masuk RI

July 13, 2015July 13, 2015
Bekasi -Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman telah mengeluarkan rekomendasi ke kementerian perdagangan untuk segera menerbitkan izin impor sapi. Hal ini untuk mengamankan kebutuhan dan harga daging sapi masyarakat pasca Lebaran. Sumber sapi impor antara lain dari Selandia Baru. "Kami akan impor indukan 30.000 ekor sapi. Datang di Agustus, sumbernya dari Selandia Baru sebanyak 10.000 ekor, sisanya masih kita usahakan," kata Amran di sela kunjungannya ke Rumah Potong Hewan (RPH) milik PT Berdikari (Persero), di Desa Gandasari, Kecamatan Cibitung Barat, Bekasi, Rabu (8/7/2015). Amran meminta Kementerian Perdagangan mengeluarkan izin impor tersebut. Agar suplai daging sapi di masyarakat tetap terjaga. Pasalnya, stok sapi yang ada saat ini sebagian digunakan masyarakat khususnya menyambut lebaran termasuk operasi pasar daging yang dilakukan Bulog. "Lebih baik Kementerian Perdagangan yang impor. Impor daging sekarang hanya untuk operasi pasar. Doakan bisa lepas ketergantungan impor sapi," ucapnya. Menjelang lebaran, ia akan mengawasi para RPH agar hanya memasok daging kualitas yang baik dan sehat. "Sanksi bisa pencabutan izin untuk daging yang tidak sehat. Tapi, para feedloter sudah kita evaluasi pada Juni, relatif aman," tutupnya. Sumber : detik.com

Dianggap Berhasil, Mentan Dapat Plakat dari Para Anggota DPR

July 13, 2015
132334_mentanplakatJakarta -Para anggota Komisi IV DPR memberikan sebuah pelakat kenang-kenangan khusus kepada Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman. Peristiwa ini terjadi setelah kunjungan mereka bersama Mentan Amran ke Pasar Induk Cibitung dan Rumah Pemotongan Hewan (RPH) di Bekasi. Pelakat tersebut bertuliskan kenang-kenangan kunjungan Komisi IV. Mentan Amran dianggap berhasil memperbaiki sistem dan produksi pertanian dalam 8 bulan bertugas. "Belum pernah kami kasih plakat ke menteri. Menteri yang lain belum ada yang dikasih," kata Wakil Ketua Komisi IV DPR Herman Khaeron, saat memberikan pelakat ke Mentan Amran, di RPH PT Berdikari, Bekasi, Rabu (8/7/2015). Pemberian pelakat tersebut sebagai bentuk apresiasi Komisi IV kepada kinerja Amran sejak pertama menjabat sebagai Mentan Oktober lalu. Komisi IV menilai Amran mampu mengamankan stok pangan dan benar-benar terjun langsung ke lokasi. "Beliau selalu turun, mudah-mudahan Menteri seperti ini dicontoh menteri lain," tambah Ketua Komisi IV DPR Edhy Prabowo.
Beberapa capaian sektor pertanian selama 8 bulan terakhir antara lain prediksi produksi padi yang naik 6%, bertambahnya areal tanam seluas 400.000 hektar,peningkatan produksi jagung dan kedelai. Sumber : detik.com

Indonesia kekurangan 39.180 penyuluh pertanian desa

July 6, 2015July 6, 2015
Jakarta (ANTARA News) - Kementerian Pertanian mengungkapkan bahwa Indonesia kekurangan sekitar 39.180 orang penyuluh pertanian di tingkat desa/kelurahan. "Saat ini terdapat 71.479 desa potensi pertanian dari 78.063 desa, kelurahan," kata Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementerian Pertanian Pending Dadih Permana di Gedung D Kementerian Pertanian, Jakarta, Jumat. Ia mengatakan hingga saat ini Indonesia memiliki sebanyak 47.412 penyuluh pertanian dari tingkat pusat hingga desa/kelurahan yang tersebar di seluruh wilayah Tanah Air. Berdasarkan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani Pasal 46 ayat 4 mengamanatkan paling sedikit satu penyuluh dalam satu desa potensi pertanian. "Dari 47.412 penyuluh pertanian, sebanyak 32.299 penyuluh yang langsung melakukan pendampingan kepada petani atau kelompok petani di desa, kelurahan, sisanya bertugas di Badan Pengkajian Teknologi Pertanian, Badan Koordinasi Penyuluhan dan Badan Pelaksana Penyuluhan," ujarnya. Dengan demikian, lanjutnya, sebanyak 32.299 orang penyuluh pertanian melayani 71.479 desa potensi pertanian, sehingga terdapat kekurangan penyuluh pertanian sebanyak 39.180 orang penyuluh di tingkat desa/kelurahan. Ia mengatakan penyuluh pertanian berperan penting dalam membina dan membimbing petani atau kelompok tani dalam meningkatkan produktivitasnya. Ia mengatakan, 70 persen keberhasilan pertanian di negara-negara lain seperti Thailamd dan Amerika Serikat ditentukan oleh penyuluh pertanian. Untuk itu, ia mengatakan penting untuk memenuhi kebutuhan penyukuh pertanian di setiap desa/kelurahan di wilayah Indonesia. Namun, lanjutnya, hanya ada 27.153 penyuluh pertanian dari total penyuluh yang ada telah menjadi pegawai negeri sipil sedangkan 20.259 yang Tenaga Harian Lepas-Tenaga Bantu (THL-TB). Ia mengatakan dari 27.513 penyuluh pertanian pegawai negeri sipil yang ada, sampai dengan 2019 sebanyak 13.464 orang atau 49,6 persen akan memasuki usia pensiun.

Editor: Suryanto

COPYRIGHT © ANTARA 2015

Sumber www.antaranews.com

Di Atas Kertas Produksi Jagung Surplus, Faktanya RI Masih Impor

July 6, 2015
Jakarta -Selain beras, kelebihan produksi alias surplus produk pertanian bakal terjadi pada komoditas pangan jagung di 2015. Namun faktanya komoditas pangan ini masih diimpor setidaknya hingga 4 bulan pertama 2015. Berdasarkan Angka Ramalan (ARAM) I Badan Pusat Statistik (BPS), produksi jagung di dalam negeri mencapai 20,67 juta ton pipilan kering jagung. Angka ini tercatat meningkat sekitar 1,66 juta ton atau setara 8,72% dari produksi jagung 2014 yang hanya sebanyak 19,01 juta ton pipilan kering.‎ Hal ini karena luas panen untuk jagung tahun 2015 bertambah diperkirakan hingga menjadi 160.480 hektar atau bertumbuh 4,18%. Sementara, produktivitas diperkirakan naik 2,16 kwintal per hektar atau naik 4,36%. Dari data tersebut tercatat bahwa peningkatan tertinggi secara absolut terjadi di 5 Provinsi penyumbang terbesar diantaranya:
  • Jawa Timur naik 8,24% menjadi 6,2 juta ton pipilan kering
  • Sumatera Utara naik 24,39% menjadi 1,4 juta ton pipilan kering
  • Jawa Tengah naik 9,14% menjadi 3,3 juta ton pipilan kering
  • Nusa Tenggara Barat naik 31,21% menjadi 1,03 juta ton pipilan kering
  • Sulawesi Selatan naik 7,42% menjadi 1,6 juta ton pipilan kering
Jumlah produksi tersebut diprediksi melebihi angka kebutuhan atau konsumsi jagung oleh masyarakat yang hanya sebanyak 19,25 juta ton pipilan kering. Dengan produksi mencapai 20,67 juta ton pipilan kering, maka produksi jagung tahun ini diprediksi surplus sekitar 393.000 ton pipilan kering. Faktanya, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor jagung Februari 2015 tercatat mencapai 300.986 ton atau US$ 71,3 juta. Angka ini tak jauh berbeda dibandingkan bulan sebelumnya dengan volume 341.657 atau US$ 75,3 juta. Akumulasi impor jagung dalam dua bulan mencapai 642.644 ton atau US$ 146,6 juta atau kurang lebih Rp 1,9 triliun. Selain itu, tercatat impor jagung pada April 2015 tercatat sebesar 212.256 ton atau senilai dengan US$ 48,9 juta. Akumulasi dari Januari-April, impornya adalah sebesar 1,3 juta ton atau US$ 302,5 juta. Bahkan Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman pernah mengatakan Indonesia masih ketergantungan impor jagung sampai 3 juta ton per tahun. Sumber : detik.com

Jokowi Resmikan Pasar Murah BUMN di 190 Titik se-Indonesia

July 6, 2015
jokowipasarmurahGarut -Presiden Jokowi pada hari ini meresmikan secara simbolis Pasar Murah BUMN di Lapangan Korem 062/Tarumanegara, Garut Kota, Jawa Barat. Acara ini diselenggarakan oleh 7 BUMN di 190 titik seluruh Indonesia. "Ini akan serentak dilakukan di 190 titik. Selain ini juga nanti BUMN akan melakukan mudik gratis pada 12-14 Juli 2015 ke 60 kota di Jawa," kata Menteri BUMN Rini Soemarno dalam sambutannya, di lokasi acara, Minggu (5/7/2015). Rini juga menyebut adanya program cashback bagi pemudik yang menggunakan kereta api. Selain itu juga ada program tabungan emas dari Pegadaian. "Jadi warga miskin nanti bisa nabung emas di pegadaian. Buka tabungannya Rp 5.000 kemudian ditambahi oleh pegadaian Rp 100.000. Tetapi bentuk tabungannya berupa emas," imbuh Rini. Setelah itu 7 perwakilan warga dipanggil ke depan untuk menerima sembako secara simbolis dan melambangkan 7 BUMN. Sembako tersebut diberikan langsung oleh Presiden Jokowi. Ketujuh BUMN yang menggelar Pasar Murah adalah BNI, BRI, Mandiri, BTN, Pegadaian, Semen Indonesia, dan Pertamina. Setelah itu Jokowi kembali ke tempat duduk, namun tak lama kemudian dia diminta memberikan sambutan. Jokowi pun kembali ke panggung. "Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, Pasar Murah BUMN resmi saya buka," kata Jokowi singkat dan disambut tepuk tangan meriah ribuan warga yang datang. Setelah acara pembacaan doa, Jokowi langsung meninjau stan yang tersedia. Salah satunya dia menghampiri stan milik pegadaian sekaligus meresmikan program 'Tabungan Emas Pegadaian'. Para warga yang hadir juga terus membuntuti Jokowi keliling stan. Pada saat Jokowi akan meninggalkan lokasi, tak lupa menyempatkan berfoto bersama beberapa warga. "Jadi ini ada 190 titik dari Sabang sampai Merauke. Arahnya ke sana untuk membantu masyarakat. Kalau secara makro juga bisa untuk menekan inflasi," ujar Jokowi sebelum bertolak kembali ke Jakarta. Sumber : detik.com  

JK: Harga Pangan Naik Jadi Kado Lebaran Buat Petani

July 2, 2015July 2, 2015
Liputan6.com, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai kenaikan harga kebutuhan pokok jelang lebaran sebagai hal wajar. Menurut dia, harga yang naik pastilah barang yang dibutuhkan bersamaan saat lebaran dan sifatnya tidak tahan lama. Ia meminta agar masyarakat tidak perlu panik menyikapi kenaikan harga tersebut. Sebaliknya, hal ini bisa disikapi sebagai bentuk apreisasi pada para petani. "Ini memang sifat tahunan. Selalu barang yang pada hari lebaran dibutuhkan bersamaan tapi tidak bisa disimpan. Kayak daging, telur ayam, ayam, cabai, dan sayuran pasti naik itu. Karena tiba-tiba orang satu hari semua butuh ayam untuk bikin opor, semua butuh daging untuk bikin rendang," kata JK, di Kantor Wapres, Jakarta, Selasa (9/6/2015). "Hadiah lebaranlah untuk petani. Kita kan ada THR, kasihlah sebagian untuk petani itu Rp 1.000, Rp 2.000. Selama 70 tahun merdeka begitu," tambah dia. Terkait hal tersebut, JK juga menegaskan pemerintah akan menjamin stok kebutuhan jelang lebaran. Bahkan, tidak menutup kemungkinan akan dilakukan impor untuk memenuhi stok. "Pokoknya semua komoditi, tidak hanya cabai, kebutuhan sehari-hari yang mencukupi dalam negeri kita tidak perlu impor. Tapi semua kebutuhan yang mendesak, tidak cukup produksi dalam negeri kalau perlu kita impor. Itu saja rumusnya," tegas JK. Sumber : liputan6.com

Mentan nilai keterbatasan gudang hambat pasokan pangan

July 2, 2015
Menteri Pertanian Amran Sulaiman menegaskan produksi pangan nasional sejatinya bisa memenuhi kebutuhan masyarakat. Permasalahannya, pasokan pangan selalu terganggu oleh keterbatasan gudang penyimpanan. "Permasalahan pasokan terletak pada tak tersimpannya hasil pangan pada gudang penyimpanan (cold storage). Ini diperlukan mengingat panen komoditas pangan hanya pada bulan-bulan tertentu dalam satu tahun," jelasnya saat meninjau gudang penyimpanan bawang merah di Cirebon, Jawa Barat, Selasa (30/6). Dia menyampaikan gudang sangat diperlukan untuk menyimpan kelebihan panen pangan terjadi di bulan tertentu. Kelebihan itu kemudian bisa disalurkan saat musim paceklik. Amran sempat melihat panen bawang merah di lahan seluas 18 hektar. Atas dasar itu, dia memastikan pasokan bawang merah cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional hingga usai Lebaran. "Sekarang harga bawang merah di sini stabil sekitar Rp 10 ribu per kg untuk tingkat petani, kemarin di Bima Rp 6 ribu-8 ribu per kg, kemudian Brebes sekitar Rp 12 ribu per kg, di kota dari Rp 34 ribu sekarang normal Rp 16 ribu-18 ribu per kg," ujarnya. Selepas ini, Amran bakal melihat kekeringan di persawahan di Sodetan Sungai Bondet dan Sungai Winong Suranenggala. Kemudian, di Blok Jatiloro, Desa Suranenggala Kidul dan Lor, Kecamatan Suranenggala, Kabupaten Cirebon. Sumber : merdeka.com

RI Stop Impor Benih Bawang Merah Tahun Depan

July 2, 2015
Jakarta -Pemerintah akan menghentikan izin impor benih bawang merah mulai tahun depan. Selama ini termasuk di 2015, Indonesia masih mengimpor benih bawang untuk kebutuhan petani di dalam negeri. "Target swasembada benih bawang kita tahun depan," kata Kepala Balitbang Kementerian Pertanian (Kementan) Muhammad Syakir di Gedung Balitbang, Ragunan, Rabu (1/7/2015). Syakir mengatakan, pihak saat ini sedang menyiapkan sumber-sumber penangkaran benih bawang merah. Hal yang sama juga dilakukan Ditjen Hortikultura Kementan. "Sudah desainkan penangkarannya," kata Syakir. Pembenihan bawang merah di dalam negeri juga mendapat dukungan dari menteri perdagangan. Selama ini izin impor benih bawang merah dikeluarkan kementerian perdagangan setelah ada rekomendasi impor dari kementerian pertanian. "Pak Gobel (mendag) minta benih bawang yang bisa ditanam kapan saja, itu tahun depan sudah ada. Kita kembangkan varietas unggul yang bisa ditanam di musim hujan," katanya. Saat ini pemerintah sedang memetakan lahan-lahan yang bisa ditanam bawang merah dengan jenis yang berbeda musim. Harapannya produksi bawang bisa terjadi sepanjang tahun. Selama ini bawang merah tumbuh baik di daerah kering asal ada air tersedia karena tidak tahan hujan. "Tahun depan kita sudah selesai. Sekarang lagi dimulai desainnya. Pusat perbenihannya di sentra-sentra kayak Brebes. 2016 sudah swasembada benih bawang," katanya. Sekjen Asosiasi Bawang Merah Indonesia Ikhwan Arif pernah mengatakan, Indonesia rutin mengimpor benih bawang merah setiap tahun. Rata-rata Indonesia mengimpor benih bawang merah per tahun sebanyak 2.000 ton dengan berbagai alasan. Permohonan bibit impor itu kan tujuannya ada 3 yaitu penelitian, pengayaan dan re-ekspor atau diekspor kembali. Sumber : detik.com

‘Ikan Ular’ Sidat Dipercaya Bikin Cerdas Hingga Jadi Obat Kulit

June 29, 2015June 29, 2015
Jakarta -Ikan Sidat (Anguilla spp) adalah jenis ikan yang diminati pasar Eropa dan Jepang hingga negara-negara Asia Timur lainnya. Ikan yang mirip ular atau belut ini dipercaya memiliki manfaat buat kesehatan. "Di Jepang kebutuhannya sangat tinggi. Sementara permintaan lainnya adalah ke Eropa dan Taiwan," kata Instruktur Balai Diklat Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Banyuwangi Dian Tugu di sela-sela pameran perikanan di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jakarta Pusat, Jumat (26/6/2015). Menurut Dian, ikan sidat memiliki tekstur daging yang lembut mampu menyembuhkan penyakit, terutama penyakit kulit. Di Jepang dan Eropa, sidat digemari karena memiliki kandungan protein, terutama vitamin A. Sidat juga mengandung DHA (Decosahexaenoic acid) atau zat yang baik untuk pertumbuhan anak. Selain itu, sidat juga memiliki kandungan EPA (Eicosapentaenoic Acid). "Kalau vitamin jelas, tetapi yang lebih dominan sidat ini menghasilkan zat albumin yang berkhasiat untuk penyembuhan luka atau regenerasi sel kulit. Sidat juga mengandung zat-zat yang baik untuk proses pertumbuhan badan dan kecerdasan otak," tambahnya. Ikan sidat asal Indonesia memiliki nilai jual tinggi di pasar ekspor. Ikan yang bentuk fisiknya mirip belut ini laris di pasar Jepang, harganya cukup tinggi. Dua jenis ikan sidat Indonesia yang harganya cukup mahal adalah jenis Marmorata (Anguilla Marmorata) dan Bicolor (Anguilla Bicolor). Dari keduanya, yang paling mahal adalah jenis Bicolor. Ikan sidat jenis Bicolor memiliki tingkat kandungan yang cukup lengkap seperti protein, vitamin A, DHA (Decosahexaenoic acid), kandungan EPA (Eicosapentaenoic Acid) hingga zat Albumin. "Harga di tingkat peternak Rp 600.000/kg sedangkan harga ekspor ke Jepang sekitar US$ 150/kg (sekitar Rp 2 juta)," kata Dian. Sumber : www.detik.com

Ikan Sidat Laku Rp 2 Juta/Kg di Jepang

June 29, 2015
Jakarta -Ikan sidat asal Indonesia memiliki nilai jual tinggi di pasar ekspor. Ikan yang bentuk fisiknya mirip belut bahkan seperti ular ini laris di pasar Jepang, harganya cukup tinggi. Instruktur Balai Diklat Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Banyuwangi, Dian Tugu menjelaskan dua jenis ikan sidat Indonesia yang harganya cukup mahal adalah jenis Marmorata (Anguilla Marmorata) dan Bicolor (Anguilla Bicolor). Dari keduanya, yang paling mahal adalah jenis Bicolor. Ikan sidat jenis Bicolor memiliki tingkat kandungan yang cukup lengkap seperti protein, vitamin A, DHA (Decosahexaenoic acid), kandungan EPA (Eicosapentaenoic Acid) hingga zat Albumin. "Harga di tingkat peternak Rp 600.000/kg sedangkan harga ekspor ke Jepang sekitar US$ 150/kg (sekitar Rp 2 juta)," kata Dian kepada detikFinance, di sela-sela pameran perikanan di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jakarta Pusat, Jumat (26/6/2015). Di Jepang ikan sidat digunakan untuk konsumsi hanya di hari-hari khusus. Daging ikan sidat Indonesia di Jepang lebih dikenal dengan nama Unagi. "Di Jepang dipakai untuk Unagi atau sidat panggang," tambahnya. Permintaan ikan sidat asal Indonesia ke Jepang memang cukup besar. Untuk hari-hari tertentu, pemerintah Jepang menyelenggarakan hari makan sidat. Sumber : www.detik.com

Peneliti IPB Berhasil Ciptakan Padi Tahan Logam

June 19, 2015June 19, 2015
Jakarta -Para peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB) berhasil menciptakan varietas padi yang tahan terhadap logam dan dapat tumbuh baik dilahan marginal yang memiliki keasaman yang tinggi. Peneliti IPB yakni Nurul Fitriah, Utut Widyastuti, dan Suharsono dari Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi (PPSHB) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), dan Departemen Biologi Fakultas Matematika dan IPA (FMIPA) melakukan penelitian dengan judul "Rekayasa Genetika Padi (Oryza Sativa L) dengan Gen Penyandi Metallothionein Tipe II dari Melastoma malabathricum L. (MaMt2)". Perakitan varietas yang toleran terhadap lahan marginal ini dapat dilakukan dengan mengekspresikan secara berlebih gen-gen yang berhubungan dengan toleransi tanaman terhadap cekaman logam, diantaranya adalah gen penyandi metallothionein tipe ll (Mt2). cDNA dari gen penyandi metallothionein tipe ll dari Melastoma affine (MaM2), telah berhasil diisolasi oleh Suharsono pada tahun 2009. "Lahan marginal ini sangat luas di Indonesia dan dapat dimanfaatkan untuk produksi padi dengan menggunakan varietas yang sesuai," kata Nurul dalam keterangannya, Kamis (18/6/2015). Kebutuhan beras nasional semakin hari terus meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk. Untuk itu produksi padi harus ditingkatkan. Salah satu usaha untuk menaikkan produksi padi nasional adalah dengan perluasan areal tanam ke arah marginal. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan rekayasa genetika terhadap tanaman padi (Oryza sativa L) dengan gen MaM2. Metallothionein berperan penting dalam mendetoksi beberapa ion logam seperti Cadmium dan Merkuri dengan pengikatan. Tanaman yang mengekspresikan secara berlebih gen ini diduga akan menjadi toleran terhadap ion-ion logam lainnya seperti alumunium. Selain itu Metallothionein adalah salah satu protein yang berperan dalam toleransi terhadap logam-logam yang berbahaya. Metallothionein adalah protein yang banyak mengandung sistem yang berfungsi mengikat logam. Transformasi genetik tanaman padi dengan gen metallothionein yang diisolasi dari tanaman Melastoma affine L. diharapkan akan menghasilkan tanaman padi yang memiliki ketahanan terhadap logam berat . Dalam penelitian ini, Padi Kultivar Kasalath telah berhasil direkayasa secara genetik sehingga menghasilkan padi transgenik yang mengandung gen metallothionein (MaMt2) yang menyebabkan kultivar padi memiliki toleransi terhadap logam-logam berbahaya. Hal tersebut terungkap dalam prosiding Seminar Hasil-hasil penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat IPB tahun 2013. Sumber : www.detik.com

Produksi Padi dan Jagung Paling Rawan Kena Efek Kemarau Panjang

June 18, 2015June 18, 2015
Jakarta -Potensi dampak terburuk El Nino atau gelombang panas yang berlangsung panjang Juni-November 2015‎ sangat rawan terhadap produksi padi dan jagung nasional. Namun kementerian pertanian (kementan) tetap optimistis produksi gabah kering giling (GKG) tetap mencapai 73,4 juta ton di 2015. ‎"Yang kita harus amankan sekarang adalah target swasembada padi harus nomor satu kita amankan," ungkap Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementan Moch Syakir saat ditemui di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Rabu (17/6/2015). Syakir menjelaskan untuk mengantisipasi bahaya El Nino di dalam negeri, pihaknya akan membagikan benih padi khusus. ‎Jenisnya padi rawa lebak yang tahan terhadap cuaca kering. Kemudian cara lain yang dilakukan adalah dengan memberdayakan lahan rawa untuk menanam padi. "‎Kita sudah punya pola sesuai musim yang terjadi. Termasuk rawa-rawa yang potensial, untuk amankan swasembada. Kementan punya teknologi untuk pertahankan padi rawa lebak dan punya varietas Inpara yang tahan genangan, kekeringan, yang bisa dikembangkan," tuturnya. Ia menegaskan dampak terburuk gelombang panas hanya akan berpengaruh kepada komoditas seperti padi dan jagung. Namun untuk jenis hortikultura seperti cabai dan bawang merah tidak akan berdampak signifikan. "‎Basis cabai tidak berdampak pada El Nino ini. Yang rawan padi dan jagung itu. Selama ini horti memiliki basis utama infrastruktur yang bagus," tukasnya. Kementan menyiapkan ada 20.000 pompa air yang akan didistribusikan untuk penanggulangan musim kemarau tahun ini. Sumber : www.detik.com

Bulog Diharapkan Pangkas Rantai Distribusi Pasokan

June 15, 2015June 15, 2015
403139_620TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menilai rantai pasokan bahan pangan dari tingkat petani hingga konsumen terlalu panjang, sehingga berakibat pada melonjaknya harga komoditas tersebut. "Selama ini persoalan pertanian kita adalah distribusi, terlalu panjang rantai pasokannya. Sehingga terkadang harga tidak dinikmati oleh petani," kata Menteri Andi Amran di Jakarta, Sabtu (13 Juni 2015). Ketika ditemui dalam peluncuran operasi pasar (OP) bawang merah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, ia mengatakan pihaknya akan meminta Perum Bulog untuk menyelesaikan masalah tersebut. Caranya, tuturnya, ialah dengan mendatangi langsung para petani untuk membeli produk bahan pangan dari mereka, sehingga memutus rantai distribusi yang terlalu panjang. "Dari petani hingga ke konsumen, itu melalui beberapa pedagang dan pengepul. Komponen biaya melonjak dari situ, akan lebih baik kalau kita potong komponen biaya itu," ujarnya menjelaskan. Sebelumnya, terkait margin harga yang terpaut jauh antara tingkat petani dan konsumen, ia berpendapat perlunya sebuah inovasi pemasaran untuk menghentikan kenaikan harga yang kerap terjadi setiap tahun. Salah satu inovasinya ialah dengan menggelar pasar murah yang akan digelar di wilayah yang terindikasi mengalami kenaikan harga komoditas bahan pangan, sekaligus melakukan pemantauan harga. "Akan kita pantau, tiap hari. Bila perlu dua kali sehari, pagi dan sore harus dipantau harga bahan pangan di seluruh Indonesia," ujar Menteri ketika melakukan sidak di Pasar Induk Kramat Jati (8 Juni 2015). Sumber : www.tempo.co

Pedagang Pasar Induk: Tak Ada Mafia di Sini

June 15, 2015
bawangindukJakarta -Pedagang bawang di Pasar Induk menegaskan tak ada mafia di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. Hal ini menanggapi soal tudingan pihak Perum Bulog terkait permainan mafia bawang merah di pasar induk. Aan Samudra, seorang bandar bawang merah di Pasar Induk Kramat Jati, menanggapi soal tudingan tersebut. Menurutnya harga bawang yang ditawarkan Perum Bulog dalam operasi pasar (OP) sebesar Rp 17.000/kg hari ini, sudah sangat mahal sehingga tak dilirik pedagang. "Tak ada mafia di sini. Kalau Pak Menteri (Mentan) bilang harga bawang sedang Rp 17.000/kg, kita aja yang segitu masih laku antara Rp 17.000- Rp 20.000, kalau belinya segitu mana untung," kata Aan kepadadetikFinance di Pasar Induk, Sabtu (13/6/2015) Ia mengatakan harga bawang di Pasar Induk Kramat Jati memang bermacam-macam, untuk bawang kualitas super di tingkat grosir dijual Rp 23.000/kg. Sedangkan untuk bawang merah masih berdaun harganya Rp 11.500/kg, bawang kecil Rp 9.000/kg, ada juga bawang merah kering yang dijual Rp 15.000-17.000/Kg. "Masak kita dibilang mafia. Orang kita ambil untung paling sekilo Rp 500. Kita kalau bandar ambil untungnya Rp 500 sampai Rp 1.000 per kg. Karena kalau bandar kan mainnya besar, jadi untung besarnya karena banyak," kata Aan. Ia mengatakan rata-rata setiap hari menjual bawang merah Brebes hingga 3 truk, setiap truk mencapai 8 ton sehingga dalam sehari mampu menjual 24 ton. "Kalau ada yang bilang ada mafia, dia nggak paham harga bawang dan pasarnya. Orang yang pungutin bawang sisa saja kalau dijual masih laku Rp 17.000 di sini," katanya. Sumber : www.detik.com

Menteri Amran Kasih Pekerjaan Buat Mahasiswa

June 15, 2015
TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan pemerintah akan menerjunkan mahasiswa pertanian untuk menjadi penyuluh pertanian di seluruh Indonesia. Sekitar 8.700 orang dilibatkan dalam program ini. "Jadi tugasnya mendampingi dan mengedukasi petani kita. Mereka kan (mahasiswa) pertanian, masa pertanian ke bank semua. Tapi sekarang tidak kan, menterinya dari pertanian juga," kata  Amran di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin, 8 Juni 2015. Sekretaris Jenderal Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Pertanian Indonesia (FKPPI), Wan Abas Zakaria, mengatakan Presiden Joko Widodo  akan menganggarkan dana untuk peningkatan kapasitas sumber daya pertanian. Anggaran digunakan untuk pembangunan laboratorium di fakultas pertanian, teaching farm dan sebagai inkubator bisnis argo teknopreneurship. "Setiap universitas wajib punya sehingga nanti lulusannya punya skill dan kompetensi yang kuat dan siap bersaing," katanya. Wan Abas menambahkan,  ada tiga persoalan utama pertanian di Indonesia. Pertama, masalah teknologi dan sumber daya manusia. Kedua, penguatan kelembagaan petani. Ketiga akses ke pasar seperti informasi teknologi dan infrastruktur. "Masing-masing harus dikoordinir. Itu yang akan kita capai dalam program pendampingan ini," ujarnya. Menurut dia, hingga kini, program penyuluhan sudah dilakukan pada 19 provinsi, tersebar dari Sumatera hingga Papua. Apabila program ini berhasil, diharapkan harga komoditas pertanian turun karena hasil panen yang melimpah. "Dengan demikian kami harapkan kesejahteraaan petani juga meningkat," katanya. Sumber : www.tempo.co

Bulog Operasi Pasar Bawang Merah dari Pasar Hingga Perumahan

June 15, 2015
bawangamranJakarta -Perum Bulog melakukan strategi operasi pasar (OP) tak lagi menyasar pasar induk namun fokus ke pasar-pasar pengecer dan perumahan. Hal ini untuk memperpendek rantai perdangan bawang merah dari petani ke konsumen. Harga bawang merah di Jakarta sempat mencapai di atas Rp 30.000/Kg. "Khusus Jakarta OP di ritel, komplek perumahan, hari ini sudah masuk ke Pasar Monas, Kelapa Gading, Cawang, Pulomas, ini hanya titik awal, kita melihat, maka kita gunakan kendaraan kecil, pertimbangannya bahwa di sana selama ini harga beli tinggi, kemarin di Mayestik Rp 40.000-45.000 per kg, jadi coba rantainya kita perpendek," kata Dirut Bulog Djarot Kusumayakti di gudang Bulog Kelapa Gading, Minggu (14/6/2015) Ia mengatakan targetnya setiap hari ada 50-100 ton bawang merah yang disebar di Jakarta, hingga harga normal. Untuk OP bawang merah di Jakarta, pasokannya dari Brebes, Jawa Tengah. Sementara itu, Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengatakan OP bawang merah di Pasar Induk Kramat Jati kemarin berlangsung dalam waktu singkat karena Bulog fokus pada operasi di tingkat ritel dan pedagang eceran. Dengan harga bawang yang dijual Bulog hanya Rp 17.000/kg, maka dapat meredam kenaikan harga bawang belakangan ini. "Nggak-nggak (hilang), dia ke pasar-pasar gudang, disebar ke 5 titik, ini (bawang) buat dijual langsung ke konsumen-konsumen bukan ke pedagang besar, kemarin Rp 30.000 per kg sekarang sudah Rp 20.000 per kg (di Kramat Jati)," katanya. Ia mengatakan OP bawang merah akan berjalan terus sampai Lebaran khususnya untuk daerah yang mengalami kenaikan harga tak wajar. Amran menargetkan dengan OP bawang merah Bulog hanya Rp 17.000/Kg diharapkan harga di konsumen tak jauh dari harga tersebut. "Yang wajar jangan lewat Rp 20.000-22.000/Kg," katanya. Sumber : www.detik.com

RI Kaya Benih Melon, Diburu Jepang Hingga Korea Selatan

June 12, 2015June 12, 2015
Banyuwangi -Kualitas benih buah Indonesia banyak diburu oleh pasar luar negeri. Salah satunya, benih melon. Ternyata, benih melon produksi dalam negeri diburu negara luar, seperti Thailand, Cina, Jepang, dan Korea Selatan. Dalam setahun, ekspor benih melon ke berbagai negara Asia ini mencapai 2 hingga 3 ton per tahun. Ini ‎terungkap saat Jambore Varietas Melon 2015 yang digelar selama 7-9 Juni 2015, di Kecamatan Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur. Banyuwangi ditunjuk langsung oleh Kementerian Pertanian sebagai tuan rumah Jambore Melon, karena potensi hortikultura Banyuwangi, khususnya buah dan sayuran, memiliki prospek yang baik. "Ada 250 varietas benih melon produksi Indonesia. Dari jumlah ini, banyak diburu pasar luar negeri," kata Direktur Perbenihan Hortikultura Kementerian Pertanian, Sri Wijayati Yusuf, di sela jambore di Desa Tembokrejo, Muncar, Banyuwangi, Senin (08/06/2015) siang. Beberapa benih melon yang tembus ekspor di antaranya melon jenis apel, rock melon, dan melon daging orange (green flash) yang digandrungi Jepang. Lalu oriental melon yang banyak disukai Korea Selatan. Meski melon-melon ini asli luar negeri, namun mampu dibenihkan di Indonesia dengan kualitas terbaik. Sehingga, banyak diburu petani di luar negeri. Sri menjelaskan, pihaknya memiliki 250 jenis varietas melon yang sudah terdaftar disertifikasi benih Kementan. Berbagai jenis ini hasil kreasi anak negeri. Hebatnya, para petani juga diikutkan dalam produksi benih melon ini. Banyaknya varietas benih, kata Sri, akan mempermudah petani menanam melon. Apalagi, pasar melon dalam negeri juga sangat bagus, termasuk eskpor ke Singapura. Selengkapnya di www.detik.com

Di Atas Kertas Produksi Bawang Merah Lokal Surplus, Ini Datanya

June 12, 2015
Jakarta -Berdasarkan data Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) produksi bawang merah dalam negeri cukup memenuhi kebutuhan setiap tahun. Namun faktanya, di lapangan ada temuan-temuanbawang merah impor ilegal, hingga lonjakan harga akibat terbatasnya pasokan. Bawang merah, merupakan komoditas hortikultura yang sensitif terhadap inflasi. Komoditas ini cukup signifikan menyumbang inflasi bersama hortikultura lainnya yaitu cabai. Data yang dikutip detikFinance, Kamis (11/6/2015), realisasi dan sasaran produksi bawang merah 2015, Kementan mencatat produksi bawang merah lokal berturut-turut dari Januari-Mei 2015 yaitu 116.336 ton, 83.056 ton, 65.278 ton, 94.152 ton, dan 86.914 ton. Sedangkan kebutuhan bawang merah untuk periode yang sama berturut-turut dari Januari-Mei 2015 yaitu 79.474 ton, 76.242 ton, 76.974 ton, 76.856 ton, dan 76.959 ton. Artinya bila dibandingkan antara produksi dan kebutuhan, rata-rata dalam 5 bulan pertama 2015 terjadi surplus selama 4 bulan. Defisit produksi hanya terjadi di bulan Maret 2015. Pada Januari terjadi surplus bawang merah 36.862 ton, Februari surplus 6.814 ton, Maret terjadi defisit 11.696 ton, April surplus 17.296 ton, dan Mei surplus 9.955 ton. Sumber : www.detik.com

Bawang dan Cabai Komoditas Paling Sensitif Sumbang Inflasi

June 11, 2015June 11, 2015
Jakarta -Saat menjelang Puasa dan Lebaran, seringkali diikuti dengan peningkatan harga-harga kebutuhan di masyarakat (inflasi) termasuk kebutuhan sayur dan buah-buahan. Ada beberapa komoditas sayur yang sensitif terhadap memberi kontribusi terjadinya inflasi yaitu bawang merah dan cabai, karena rentan terjadi kenaikan harga akibat fluktuasi pasokan. "Komiditas hortikultura yang sensitif terhadap inflasi adalah bawang merah dan cabai," jelas keterangan tertulis Ditjen Hortikultura, Kamis (11/6/2015). Kementan mencatat produksi cabai besar 2015 pada Mei 2015 sebesar 95.621 ton, pada Mei 2015 produksi surplus 3.162 ton. Sedangkan kebutuhan Juni dan Juli 2015 mencapai 98.931 ton dan 97.231 ton. Produksi cabai rawit Mei 2015 surplus 14.894 ton sebab produksi mencapai 83.817 ton sedangkan kebutuhannya 68.923 ton. Sasaran produksi tahun 2015 mencapai 1.082.136 ton atau naik tipis 2% dari pada 2014. Cabai rawit pun sasaran produksinya turun 5% dari tahun sebelumnya. Bawang merah pada Maret 2015 mengalami defisit 11.696 ton karena produksi hanya 65.278 ton sedangkan kebutuhan mencapai 76.974 ton. Pada April 2015 surplus produksi 17.296 ton.Pada Mei juga mengalami kelebihan produksi 9.955 ton, sebab produksi dihasilkan 86.914 ton bawang merah sedangkan kebutuhannya 76.959 ton. Kebutuhan bawang merah akan mencapai siklus tertinggi selama 2015 pada Juni sebesar 84.505 ton dan Juli 82.483 ton atau naik 7-10% dari kebutuhan pada bulan-bulan lainnya. Sasaran produksi bawang merah menurun 10% dari tahun sebelumnya. Selengkapnya di www.detik.com

Mentan Amran Sindir Sarjana Pertanian yang Lebih Memilih Kerja di Bank

June 11, 2015
125113_mentanJakarta - Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Pertanian Indonesia (FKPTPI) bersama Mentan Amran Sulaeman menemui Presiden Jokowi. Dalam pertemuan hari ini, mahasiswa jurusan pertanian diminta untuk lebih berperan aktif memajukan pertanian. "Sekarang ini mahasiswa yang kita libatkan di pertanian 8.700 orang. Sekarang ini kita akan tingkatkan lagi ke depan, kayak penyuluh, dia mendampingi mengedukasi petani kita. Dia kan pertanian, masa pertanian ke bank semua? Nantinya tidak, karena menterinya juga dari (jurusan) pertanian," kata Amran di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Senin (8/6/2015). Selain itu juga akan dikembangkan kewirausahaan pertanian. Sehingga ke depannya komoditas pertanian Indonesia dapat menjadi unggulan. "Kita bangun bersama dengan dekan (Fakultas Pertanian) seluruh Indonesia," imbuh dia. Sekjen FKPTPI Wan Abbas Zakaria kemudian menambahkan bahwa dengan pendampingan akademisi, maka produksi pertanian dapat lebih besar. Selain itu teknologi di bidang pertanian juga bisa lebih dikembangkan. "Untuk pengujian-pengujian teknologi ini. Mudah-mudahan melalui itu produksi meningkat, harga dijamin sehingga income meningkat dan kesejahteraaan petani juga meningkat," kata Abbas. Pendampingan oleh mahasiswa sudah dilakukan tersebar di 19 provinsi di seluruh Indonesia. Pendampingan juga akan menjadi salah satu syarat kelulusan mahasiswa. Sumber : www.detik.com

RI Bakal Impor Cabai dari Thailand

June 10, 2015June 10, 2015
Jakarta -Menteri Perdagangan (Mendag) Rachmat Gobel memastikan akan membuka izin impor cabai jelang Puasa. Hal ini untuk memastikan kebutuhan cabai di dalam negeri tercukupi sehingga tak ada lonjakan harga dan menyumbang inflasi. "Cabai yang sudah pasti, dalam waktu dekat kita akan keluarkan," kata Gobel usai rapat terbatas di Istana, Selasa (9/6/2015) Ia mengatakan, proses pemasukan cabai impor akan dilakukan secara bertahap dan akan dilaksanakan pada minggu-minggu ini. Cabai impor yang didatangkan mencakup jenis segar dan kering. "Dari Thailand kali ya. Cabai segar, cabai kering," katanya. Pemerintah memilih opsi impor, bila pasokan kebutuhan pangan dalam negeri tidak mencukupi. Impor dipilih untuk mengamankan pasokan menjelang puasa dan lebaran. Apalagi kenaikan harga cabai yang mencapai 22% telah menyumbang inflasi di Mei 2015. Sebelumnya Gobel mengatakan, komoditas yang direncanakan impor adalah cabai dan bawang. Pasokan kedua bahan pangan ini dinilai kurang sehingga membuat harga naik. "Kalau bawang merah belum, karena masih dihitung, karena di mana-mana kan katanya panen. Jadi harus dicek panennya betul nggak, cukup nggak buat nasional," katanya. Sumber : www.detik.com

Mentan: Harga dan Stok Pangan Jelang Ramadhan Aman

June 10, 2015
JAKARTA - Menteri Pertanian, Amran Sulaiman melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin pagi (8/6) untuk mengontrol perkembangan harga dan ketersedian pasokan pangan seperti beras, bawang, dan cabai menjelang masuknya Bulan Suci Ramadhan. Hasil sidak, ditemukan harga bawang merah variatif sementara cabai (keriting, merah, rawit) cenderung turun dari sebelumnya. Kemudian, pasokan pangan jelang Ramadhan aman. Mentan tiba di Pasar Induk Kramat Jati pukul 5.50 WIB dan langsung bergegas masuk ke pasar menyambangi pedagang sayur. Di tengah aktivitas pedagang yang sedang sibuk, Mentan berdialog dengan beberapa pedagang untuk menanyakan harga dan pasokan bawang merah dan cabai. “Pak, harga bawang di sini (Pasar Induk Kramat Jati) berapa per kilo nya? dan stok bawang di pasar ini cukup sampai nanti Lebaran?,” tanya Mentan pada Sutanto salah seorang pedagang besar bawang merah. Sutanto menyampaikan pada Mentan, harga cabai merah dijual Rp 15.000 per kilogram yang di ambil langsung dari Brebes dengan harga Rp 13.000 per kilogram. Ketersediaan bawang merah pun sampai Lebaran nanti aman. Terkait harga dan stok cabai, Mentan menanyakan pada Abdullah seorang pedagang yang sudah lama berjualan di Pasar Induk Kramat Jati terkait harga cabai. “Harganya Rp 20.000 sampai Rp 22.000 per kilogram Pak Haji dan kalo pun ditawar harganya Rp 18.000 per kilogram,” jawab pedagang. Dalam sidaknya ini, Mentan mendapat informasi langsung akan harga bawang dan cabai. Harga bawang merah Rp 15.000 per kilogram dari harga produsen di Brebes Rp 13.000 per kilogram. Kemudian, harga cabai kriting Rp 18.000 hingga Rp 22.000 per kilogram dari harga produsen di Garut Rp 16.500 per kilogram dan harga cabai rawit Rp 15.000 per kilogram dari harga sebelumnya Rp 22.000 per kilogram. “Sementara itu, pasokan beras bulan April yang tersedia sekitar 17 ribu ton. Bulan Juni dan Juli puncak panen raya. Itu rekomendasi kalau impor adalah alternatif terakhir karena kita harus menjaga harga,” kata Mentan. Mentan mengatakan pada para pedagang agar jangan menaikan harga pangan menjelang Bulan Suci Ramadhan dan sampai nanti Lebaran. “Kami minta jangan naikkin lagi harga bawang dan harga pangan lainnya, bila perlu harganya diturunkan,” ungkap Mentan. Pasokan bawang merah di Pasar Induk Kramat Jati sebesar 80 hingga 90 ton per hari yang sebagian besarnya yakni 70 persen dipasok dari Brebes dan sisanya dari produsen di daerah Jawa Barat seperti Garut dan Badung. Sementara bawang merah dari Jawa Timur (Jatim), bawang merahnya hampir sama dengan bawang Brebes, sehingga kalau bawang merah Jatim masuk Jakarta disebutnya bawang Brebes. Adapun pasokan total bawang merah di Pasar Induk Kramat Jati sebesar 140 hingga 150 ton per hari. Ini menunjukkan stok bawang merah aman menjelang Bulan Suci Ramadhan. Dalam kesempatan ini, Mentan menyampaikan telah melakukan pengecekan harga dan stok pangan di sejumlah daerah selama satu pekan, yakni di Pasar Terong Makassar, Jeneponto, Sulawesi Utara, Brebes dan Banyuwangi. Hasilnya, sampai saat ini pasokan cukup menjelang Suci Ramadhan yang akan bertahan sampai Ramadhan. Kemudian, harga bawang di pasar sejumlah pasar berkisar Rp 15.000 hingga Rp 17.000 per kilogram. Sumber : www.pertanian.go.id

RI Impor Singkong dari Vietnam

June 9, 2015June 9, 2015
akarta -Ada beberapa jenis pangan yang sebetulnya tak perlu untuk diimpor ke dalam negeri, namun masih diimpor dari Vietnam dan Thailand. Meski jumlahnya tak banyak, namun mengindikasikan masih ada masalah dengan ketahanan pangan di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutipdetikFinance, Selasa (9/6/2015), Ubi kayu atau yang lebih dikenal dengan sebutan singkong juga berasal dari impor. Pada April 2015, impor singkong tercatat mencapai 28,3 ton atau setara dengan US$ 6.802. Data BPS mencatat asal impor singkong hanya berasal dari Vietnam. Pada tahun ini, memang hanya pada April singkong impor masuk ke dalam negeri. Bila melihat ke beberapa tahun sebelumnya, impor singkong juga pernah terjadi 2013 lalu. Tepatnya bulan Mei, dengan besaran 100 ton atau senilai US$ 38‎ ribu dan berasal dari Thailand. Sumber : www.detik.com

Masa Depan Pangan Indonesia di Tangan Balitbangtan

June 9, 2015
picture (1) BOGOR – Menteri Pertanian Dr. Andi Amran Sulaiman mengatakan bahwa masa depan pangan Indonesia ada di tangan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan). Untuk itu, Mentan berharap agar Balitbangtan dapat terus meningkatkan kinerja. “Tingkatkan penelitian ke depan dan fokus,” tegas Mentan pada Rapat Kerja Balitbangtan, Jumat (5/6/2015) di Auditorium Sadikin Sumintawikarta, Cimanggu. Lebih lanjut Mentan menyampaikan agar Indonesia dapat mulai mengurangi impor, khususnya terhadap delapan komoditas utama. Untuk itu, sesuai dengan tema Rapat Kerja Balitbangtan yakni ‘Sinkronisasi Program Litbang dalam Rangka Mendukung Akselerasi Pencapaian Swasembada Pangan’, Mentan mengungkapkan beberapa harapan kepada Balitbangtan. Antara lain terkait padi, jagung, kedelai, tebu, sapi, bawang merah, cabai, serta alat mesin pertanian. Masing-masing komoditas agar dapat dikembangkan, serta ditingkatkan penyebaran benih maupun alsintan ke lapangan ke petani sehingga memberikan hasil tinggi dan swasembada bisa tercapai “Buka lahan baru, beri bantuan dalam bentuk paket mulai dari lahan, pupuk, benih/bibit yang dapat memberikan hasil tinggi, traktor, sebarkan ke seluruh Indonesia” ujar Mentan. Begitu halnya untuk alsin, Mentan ingin agar alsin hasil rekayasa Balitbangtan seperti combine harvester dapat dioptimalisasi produksi serta penyebarannya ke seluruh Indonesia untuk membantu tercapainya swasembada. Mentan juga menyampaikan bahwa agar tercapai swasembada pangan, baik Balitbangtan maupun Kementerian Pertanian secara keseluruhan harus menghilangkan sifat egosentris sektoral. Kesuksesan yang telah dicapai, ujar Mentan, merupakan kerja bakti bersama termasuk dengan seluruh stakeholder dan turun ke lapangan. “Yang bisa menyelesaikan persoalan pertanian adalah turun ke lapangan,” tutup Mentan. Sumber : www.litbang.pertanian.go.id

RI Masih Doyan Impor Kopi, Teh, Sampai Susu Sapi

June 8, 2015June 8, 2015
Jakarta -Sampai dengan sekarang, Indonesia masih rutin untuk mengimpor bahan pangan yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat. Di antaranya adalah kopi, teh dan susu sapi. Demikianlah tercatat dalam laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip detikFinance, Jumat (5/6/2015). Kopi Pada April 2015, impor kopi adalah sebesar1.419 ton atau US$ 3,7 juta‎. Sedangkan secara akumulasi dari Januari, impor sudah mencapai 2.554 ton atau US$ 8,4 juta. Berikut negara asalnya kopi yang diimpor Indonesia :
  • Brasil 228 ton atau US$ 813 ribu
  • Vietnam 1136 ton atau US$ 2,2 juta
  • Malaysia 12,3 ton atau US$ 140 ribu
  • Italia‎ 18,6 ton atau US$ 347 ribu
  • Negara lainnya 23,7 ton atau US$ 153 ribu.
Teh Impor teh pada April adalah 989,9 ton atau US$ 2,1 juta. Akumulasi dari awal tahun adalah 4.692 ton atau US$ 8,03 juta. Berikut negara asalnya :
  • Vietnam 538 ton atau US$ 479 ribu
  • Kenya 224 ton atau US$ 677 ribu
  • Srilanka 50,1 ton atau US$ 417 ribu
  • Iran 70,8 ton atau US$ 59 ribu
  • Jepang 6,2 ton atau US$ 108 ribu
  • Negara lainnya 99,8 ton atau US$ 376‎ ribu.
Susu Susu impor masuk ke dalam negeri sebesar 18.662 ton atau US$ 51,8 juta pada April 2015. Akumulasi dari‎ awal tahun tercatat sebesar 68.898 ton atau US$ 203,8 juta. Berikut negara asalnya :
  • Selandia Baru 4.941 ton atau US$ 13,1 juta
  • Australia 4.112 ton atau US$ 13,1 juta
  • Amerika Serikat 4.048‎ ton atau US$ 11,1 juta
  • Belgia 1475 ton atau US$ 3,9 juta
  • Prancis 1.905 ton atau US$ 4,6 juta
  • Negara lainnya‎ 2.179 ton atau US$ 5,8 juta.
Sumber : www.detik.com

RI Bisa Swasembada Pangan, Bila Produksi Beras Daerah Ini Aman

June 8, 2015
amransulaimandiwajoJakarta -Pemerintah menargetkan swasembada pangan pada 2017. Hal tersebut dapat tercapai bila produksi padi di empat daerah ini aman. Hal tersebut seperti diungkapkan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman. Swasembada pangan di Indonesia ditentukan oleh produksi beberapa daerah penghasil padi. "Bila produksi di Jawa Timur, Lampung, Medan dan Sulawesi Selatan (Sulsel) aman, selesai sudah masalah pangan di Indonesia," ujar Amran dalam keterangan tertulisnya, Minggu (7/6/2015). Amran menjelaskan, karena daerah-daerah tersebut sebagai penghasil beras terbesar di Indonesia. Seperti Sulsel, untuk mengamankan produksi padi lancar, pemerintah memberikan meningkatkan anggaran untuk pertanian di Sulsel naik menjadi Rp 2,5 triliun. Salah satunya untuk membangun irigasi sebanyak 230 ribu hektar, yang sekarang baru terealisasi 30 persen. "Kenapa anggaran naik? Secara tradisional Sulsel beri makan dan tidak ada yang lain untuk wilayah sini. Memang produsen terbesar masih di Jawa," ucap Amran. Amran berharap, daerah-daerah lain dapat meniru Sulsel dalam hal semangat meningkatkan produksi pertaniannya. karena bila terbukti mampu menaikkan produksinya, ia berjanji akan menambah anggaran untuk daerah tersebut. "Indramayu sampai nangis karena anggarannya Rp 800 miliar. Tidak capai target produksi 100 ribu ton, lebih baik dicabut saja anggarannya. Tapi alhamdulillah produksi naik," ungkapnya. Sumber : www.detik.com

Amankan Pasokan Jelang Puasa, Pemerintah Bakal Impor Cabai dan Bawang

June 5, 2015June 5, 2015
Jakarta -Pemerintah memilih opsi impor jika pasokan kebutuhan pangan dalam negeri tidak mencukupi. Impor dipilih untuk mengamankan pasokan menjelang puasa dan lebaran. Menteri Perdagangan Rachmat Gobel mengatakan, jenis komoditas yang direncanakan impor adalah cabai dan bawang. Pasokan kedua bahan pangan ini dinilai kurang. "Kita siapkan impor cabai dan bawang karena memang panen yang ada belum menjamin, sekarang sedang dihitung berapa yang diperlukan," ujar dia usai Rapat Koordinasi bersama Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, di Gedung Kemendag, Jakarta, Jumat (5/6/2015). Gobel mengungkapkan, untuk mengantisipasi lonjakan harga sembako di pasar menjelang puasa, pihaknya akan melakukan operasi pasar. "Pasti, pemerintah akan melakukan operasi pasar, termasuk pemerintah akan melakukan impor kalau diperlukan, untuk menjaga stabilitas harga," jelas dia. Di samping itu, Tjahjo akan menyampaikan surat edaran kepada masing-masing kepala daerah untuk memastikan stabilitas harga pangan menjelang puasa dan lebaran. "Tujuannya adalah gubernur, bupati, dan walikota harus bertanggung jawab terhadap stabilitas harga di pasar, kemudian gubernur, bupati, walikota juga harus tahu distributor, pengusaha yang memasok ke pasar dan sebagainya, kebutuhan sebelum lebaran, kepala daerah didukung oleh dinas perdagangan, oleh kepolisian," pungkasnya. Sumber : www.detik.com

RI Masih Impor Benih Padi Hibrida dari China dan Filipina

June 5, 2015
Jakarta -Hingga kini Indonesia masih bergantung pada impor induk benih padi hibrida dari China. Permintaan impor padi jenis ini cukup tinggi dengan alasan karena produktivitas padi hibrida asal China jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata produktivitas padi di dalam negeri. "Benih hibrida kita impor dari China. Permintaan itu memang didorong hasil benih hibrida impor produktivitasnya mencapai 12 ton/ha," ungkap Kepala Badan Karantina (Barantan) Kementerian Pertanian (Kementan) Banun Harpini saat ditemui di Gedung Kementan Ragunan, Jakarta, Kamis (4/6/2015). Banun mencatat, permintaan benih padi hibrida impor saat ini datang dari Provinsi Kalimantan Selatan. Salah satu BUMN yaitu PT Sang Hyang Seri (SHS) mengajukan izin impor dengan jumlah tertentu. "Saya menanggapi permintaan benih padi hibrida impor dari Kalimantan Selatan. SHS intens mengajukan permohonan impor benih padi hibrida. Jadi sumber benihnya ada, saya ada data pengimpor, jumlah dan resiko yang ditimbulkan," tambahnya. Selain dari China, negara lain yang menyediakan benih padi hibrida adalah Filipina. SHS juga telah mengajukan izin untuk bisa mendatangkan benih padi hibrida impor dari Filipina. "Kita sedang atur principment inspection-nya bisa dilakukan otoritas China. Kemarin SHS juga ajukan permintaan untuk impor benih hibrida dari Filipina," cetusnya. Data Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian menunjukkan, sejak 2002 Balitbang Pertanian menghasilkan tujuh varietas padi hibrida, yakni Galur CMS A1, Galur CMS A2, Galur Restorer R 17, Galur Restorer R 32, Hipa 5 Ceva, Hipa 6 Jete, dan IR 8025A/BR827-35. Namun, produktivitas varietas-varietas itu masih kalah dibandingkan dengan varietas yang dimiliki China. Rata-rata produktivitas benih padi lokal hanya 6-7 ton per hektar. Sumber : www.detik.com

Indonesia Masih Impor Garam dari Singapura Hingga Australia

June 5, 2015
Jakarta -Indonesia memang harusnya berbangga sebagai negara kepulauan dengan luasnya laut yang dimiliki. Keunggulan ini seharusnya dimanfaatkan dengan optimal, salah satu carannya dengan memproduksi garam. Kondisinya sekarang‎, kebutuhan garam di dalam negeri masih mengandalkan impor. Tercatat pada April 2015, garam yang diimpor mencapai 95.164 ton atau setara dengan US$ 4,5 juta. Demikianlah data yang dilaporkan Badan Pusat Statistik (BPS), dikutip detikFinance, Jumat (5/6/2015) Sementara itu pada periode Januari - April 2015, impor garam mencapai 486.509 ton atau US$ 21,8 juta. Memang jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu, yang sebesar 858.971 ton atau US$ 39,9 juta. Berikut negara asal impor garam:
  • Australia 47.235 ton atau US$ 2,3 juta
  • India 47362 ton atau US$ 1,9 juta
  • Selandia Baru 552 ton atau US$ 223 ribu
  • Singapura 4,1 ton atau US$ 20 ribu
  • Negara lainnya 11,4 ton atau US$ 6.382
Sumber : www.detik.com

Kementan Bakal Cabut Anggaran 26 Kabupaten

June 4, 2015June 4, 2015
Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) berencana menghentikan anggaran di 26 kabupaten pada 2016 lantaran produksi di sektor pertanian tahun ini tidak sesuai target. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan hal itu pada acara Musrenbangtan yang digelar pada Rabu (3/6/2016). Andi sendiri tak merinci wilayah mana saja yang akan dicabut anggarannya. "Kami mohon maaf ada 26. Mudah-mudahan semoga surat kami sudah tiba yang tidak capai target, bahkan di bawah tahun lalu saya kira lebih adil tidak mendapat anggaran 2016 dan kemungkinan nol. Kami sudah laporkan DPR dan Bapak Presiden," kata Andi. Dia menuturkan, alokasi dana yang tidak mencapai target akan digeser ke wilayah-wilayah yang produksinya baik. Padahal, pemerintah sendiri akan menaikkan anggaran diKementerian Pertanian mencapai Rp 45 triliun pada 2016. "Anggaran kami alihkan ke capaian yang lebih tinggi. Ingat anggaran tahun Rp 15 triliun jadi Rp 45 triliun ini 200 persen. Tapi  masih ada waktu April-September saya yakin bisa penuhi target. Jadi minta maaf saya bicara ke depan," ujar Andi. Dia menegaskan, anggaran pemerintah merupakan komitmen untuk meningkatkan sektor pertanian. Pemerintah menyatakan alokasi anggaran seharusnya dimanfaatkan sebaik-baiknya dan tidak mubazir. "Itu sudah komitmen pemerintah memajukan pertanian. Karena logikanya tidak diberi 100 ribu ton, diberi anggaran sama 100 ribu. Ini tidak memanfaatkan anggaran," kata Andi. Di sisi lain, dia mengatakan terdapat 10 kabupaten terbaik yang target pertaniannya melebihi target. Andi memastikan akan meningkatkan alokasi anggaran ke wilayah tersebut. "Departemen pusat tidak bisa kerja sendiri. Ada 10 dinas terbaik tercapai di atas target. Kami sampaikan pertahankan bahwasanya naik anggaran tahun depan," ujar Andi. Pemerintah sendiri memfokuskan tujuh komoditas yang akan digenjot, antara lain padi, jagung, kedelai, cabai, bawang, daging sapi, dan tebu. Berdasarkan, data yang diterima, di tahun 2016 pemerintah menargetkan produksi padi 76,23 juta ton, jagung 21,35 juta ton, kedelai 1,82 juta ton, daging 590 ribu ton, dan gula 3,27 juta ton. Sumber : www.liputan6.com

Kementan: RI Masih Impor Benih Bawang Merah

June 4, 2015
Jakarta -Kementerian Pertanian (Kementan) mengakui bila ada beberapa jenis benih atau bibit tanaman pangan yang masih harus diimpor dari negara lain. Salah satunya adalah bawang merah. "Hari ini kita masih impor benih bawang merah. Seharusnya kebutuhan benih bisa kita penuhi dari para penangkar benih bawang merah yang kita punya. Kalau kita bisa, kenapa harus impor," ungkap Dirjen Hortikultura Kementan Sputnik Sujono Kamino saat ditemui di Gedung Kementan Ragunan, Jakarta, Rabu (3/6/2015). Sujono menambahkan, komoditas bawang merah selalu menjadi masalah pemerintah setiap tahun. Sama dengan cabai, bawang merah juga kerap menjadi penyumbang inflasi karena harganya yang naik-turun. "Komoditas horti paling seksi memang bawang merah dan cabai. Dari segi ekonomisnya, sebetulnya itu peluang dan potensi. Harga bawang merah belakangan ada tren naik bersama-sama kita carikan solusi. Sedang digodok UPSUS (Upaya Khusus) bawang merah dan cabai. Ini PR saya jangka pendek dan selesai pelantikan Pak Menteri sampaikan ke saya tolong jangka pendek selesaikan bawang merah," katanya. Sementara itu dihubungi secara terpisah Sekjen Asosiasi Bawang Merah Indonesia Ikhwan Arif membenarkan bila Indonesia rutin mengimpor benih bawang merah setiap tahun. Bahkan ia mengklaim rata-rata Indonesia mengimpor benih bawang merah per tahun sebanyak 2.000 ton dengan berbagai alasan. "Sesuai Permentan (Peraturan Menteri Pertanian), permohonan bibit impor itu kan tujuannya ada 3 yaitu penelitian, pengayaan dan re-ekspor (diekspor kembali). Kalau penelitian saja, masa butuh 2.000 ton. Paling besar untuk pengayaan tapi jangan lari ke konsumsi lagi. Re-ekspor mestinya kalau lebih dari 2.000 ton," tandasnya. Sumber : www.detik.com

Mendag Gobel Beri Izin Impor 279.000 Ekor Sapi

June 4, 2015
Jakarta -Kementerian Perdagangan (Kemendag) telah mengeluarkan izin impor sapi untuk memenuhi kebutuhan saat bulan puasa dan lebaran. Ada sebanyak 11 perusahaan yang mendapatkan kuota untuk impor tersebut. "Sudah dijalankan. Sudah dikelaurkan, realisasinya tentu akan dikontrol dari semua pemegang izin impor itu sendiri. Sekitar 11 perusahaan," ungkap Mendag Rachmat Gobel di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (3/6/2015). 279.000 ekor sapi tersebut masih berasal dari Australia, yang terdiri dari 250.000 ekor sapi bakalan dan 29.000 ekor sapi siap potong. "Masih, masih dari australia. Ke depan memang kita akan mempertimbangkan untuk impor dari negara lain, selain dari Australia," terangnya. Menurutnya, produksi sapi di dalam negeri masih sangat rendah. Sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang sangat tinggi pada periode lebaran. Selain itu, juga banyak produsen tidak mau menjual sapinya. "Untuk pastinya bisa tanyakan ke Kementerian Pertanian, berapa besar sebetulnya. Karena sapi itu kita ada tapi milik peternak yang belum tentu mau dijual. Tidak seperti kebutuhannya. Dia kan menjual sesuai kebutuhan para peternak itu sendiri, jadi kita nggak bisa hitung. Yang kita harapkan, mereka lepas tuh sapi," kata Gobel. Sumber : www.detik.com

Aksi Perdana Balitbangtan Mewujudkan Pengembangan Kawasan Pangan Merauke

June 4, 2015
picture Merauke diharapkan dapat memberikan sumbangan pada pencapaian swasembada pangan melalui program Kementerian Pertanian yaitu Pengembangaan Kawasan Pangan seluas 250.000 di tahun 2015 dari target seluas 1,2 ha. Tahap I pada musim gaduh (Oktober 2015) akan dilakukan penanam padi seluas 50.000 ha. Mengawali program tersebut, Tim dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) yang dipimpin oleh Sekretaris Balitbangtan Dr. Agung Hendriadi, pada 29 Mei – 2 Juni 2015 melakukan koordinasi dengan pemerintah setempat yang membahas tentang pemantapan area lahan 50.000 ha dan rencana perbenihan untuk mendukung penanaman padi seluas 50.000 ha. Selain itu, dilakukan pula quick assesment/pengumpulan data awal oleh tim ahli Balitbangtan yang terdiri dari pakar budidaya, alsintan, pasca panen dan tanah untuk mengidentifikasi potensi dan kendala yang ada di lapang. Rombongan Balitbangtan di Merauke juga meninjau lahan yang akan dijadikan pembukaan lahan yang meliputi empat distrik yaitu Semangga, Tanahmiring dan Kurik. Kemudian dilanjutkan dengan mengunjungi Balai Benih Induk (BBI) sebagai pemasok benih. Untuk memenuhi kebutuhan benih seluas 50.000 ha diperlukan benih  1250 ton dan areal seluas 625 ha untuk memproduksi benih. Data dari BBI, luas lahan yang efektif digunakan untuk produksi benih seluas 96 ha, 100 ha hutan ringan dan 400 ha hutan, sedangkan di BBI luas lahan untuk produksi benih seluas 48 ha. Selain memproduksi benih sendiri, BBI mempunyai 23 penangkar di dalam lahan BBI dan 100 penangkar tersebar di masing-masing distrik. Untuk stok benih, BBI mempunyai benih 70 ton dari kelas benih penjenis/FS dan BBI mempunyaui benih 50 ton dari kelas FS. Hasil dari pertemuan tim pakar mendapatkan masukan yang konstruktif dari Bupati Merauke serta beberapa SKPD Provinsi Papua maupun Kabupaten Merauke. Secara keseluruhan Merauke sangat berpotensi untuk pengembangan kawasan pangan karena di dukung kondisi lahan yang luas dan datar, berbasis lahan pasang surut dan potensi irigasi yang sangat layak karena  memiliki lima sungai besar yaitu sungai Digul, Bian, Kumbe Maro dan Buraka. Sumber : www.litbang.pertanian.go.id

Mentan Amran Rombak Jajaran Pejabat Tinggi Kementan

June 1, 2015June 1, 2015
fotolanipelantikanJakarta -Hari ini, Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman merombak beberapa pejabat baru eselon I Kementerian Pertanian (Kementan). Perombakan para pejabat didahului oleh lelang terbuka sesuai Keputusan Presiden (Kepres) No. 17/2015. "Tahapan ini tindak lanjut seleksi jabatan eselon I dengan ditetapkannya Kepres No. 17 tanggal 26 Mei 2015. Masih ada 4 jabatan yang masih menunggu pengesahan Bapak Presiden. Ini pertama kali Kementerian Pertanian melakukan seleksi terbuka dengan mekanisme lelang dan berlangsung sukses," kata Amran di Gedung Kementan kawasan Ragunan, Jakarta, Senin (1/6/2015). Ada 6 nama para pejabat eselon I yang dilantik hari ini adalah:
  • Sputnik Sujono Kamino dilantik sebagai Dirjen Hortikultura,
  • Pending Dadih Permana sebagai Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM,
  • Justan Riduan Siahaan sebagai Inspektur Jenderal,
  • Muhammad Syakir sebagai Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian,
  • Muladno sebagai Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan,
  • Banun Harpini sebagai Kepala Badan Karantina Pertanian.
Di dalam kata sambutannya, Amran berpesan bila swasembada pangan seperti beras, jagung dan kedelai masih menjadi target utama kementeriannya. Di samping itu peningkatan produksi komoditas-komoditas yang dianggap penting seperti bawang merah, cabai, kakao, dan karet. Kemudian pesan lainnya yang disampaikan Amran adalah optimalkan serapan anggaran untuk memprioritaskan kegiatan nyata dari APBN P. "Target pada bulan Juli 2015 (harus sudah) terserap 60% dari anggaran," kata Amran. Lalu program lain yang diarahkannya adalah mensukseskan UPSUS tanam jagung dan kedelai, penanganan khusus atasi kekeringan di lahan kering dan lahan rawan kekeringan, penanganan gejolak harga-harga pangan khususnya jelang puasa dan hari raya Idul Fitri serta disiplin dalam bekerja. "Harus capai target dan upayakan untuk lampaui target agar memenuhi kebutuhan nasional dan terwujud ketahanan pangan. Lakukan evaluasi, kerja cerdas, kerja keras dan kerja jelas," pesan Amran kepada para pejabat eselon I yang dilantik. Sumber : www.detik.com

Bawang Impor Ilegal Lolos ‘di Depan Mata’ Mendag dan Mentan

June 1, 2015
084519_sembako002Jakarta -Kementerian Perdagangan (Kemendag) maupun Kementerian Pertanian (Kementan) tahun ini belum mengeluarkan rekomendasi dan izin untuk impor bawang merah. Namun nyatanya, bawang impor sudah menyebar di pasar-pasar tradisional Jakarta, yang sangat dekat dengan wilayah kerja Menteri Pertanian (Mentan) dan Menteri Perdagangan (Mendag) "Di Pasar Kramat Jati ada bawang merah impor, itu sedekat itu lho dengan Mentan dan Mendag," ujar Sekretaris Jenderal Asosiasi Bawang Merah Indonesia, Ikhwan Arif, dihubungi detikFinance, Kamis (28/5/2015). Ia mengakui, produksi bawang merah petani lokal mengalami penurunan antara 30-40%, terutama di sentra bawang merah di Brebes Jawa Timur. Hal tersebut karena faktor iklim atau cuaca. "Dalam minggu ini, akan kami kumpulkan anggota kami untuk bahas soal roadmap swasembada bawang merah, sistem informasi bawang, tolak impor, dan bawang merah organik," ucapnya. Arif mengatakan, Kementerian Pertanian akan menganggarkan Rp 1 triliun untuk peningkatan produksi bawang merah lokal di 2016. Namun kebijakan ini harus disalurkan untuk kebijakan yang tepat. "Anggaran itu lebih baik dipakai untuk konsen ke benih dan pembentukan sistem informasi (pasar). Juga untuk ganti rugi saat paceklik," tutup Arif. Sumber : www.detik.com

Subsidi Pupuk Rp 30 T Tak Tepat Sasaran, Distribusi Akan Dirombak

June 1, 2015
Jakarta -Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan mengubah mekanisme penyaluran subsidi pupuk pada tahun depan. Alasannya karena selama ini pupuk subsidi tak tepat sasaran kepada petani yang membutuhkan. "Melaksanakan secara bertahap mekanisme subsidi pupuk melalui subsidi langsung kepada petani yang termasuk rumah tangga miskin dan rentan‎," kata Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro dalam konferensi pers di Kantor Ditjen Pajak, Jakarta, Kamis (28/5/2015) Bambang mengatakan tahun lalu dana yang dianggarkan untuk subsidi pupuk mencapai Rp 30 triliun, namun yang menikmati justru bukan petani. Produk pupuk subsidi tidak boleh digunakan oleh perkebunan besar. ‎"Kenapa kita ajukan ini, karena selama ini subsidi pupuk cukup besar, sekitar Rp 30 triliun tahun lalu itu banyak tidak tepat sasaran. Artinya bukan dibeli petani yang membutuhkan. Misalnya perkebunan, tapi dengan harga subsidi. Ini yang mau kita bereskan," jelasnya. Rencananya, akan ‎diubah ke dalam mekanisme subsidi langsung. Jadi nanti subsidi akan diberikan langsung kepada para petani. "Ketersediaan pupuk itu cukup, kemudian subsidi diberikan dalam bentuk uang supaya mereka bisa membeli pupuk.‎ Jadi pendekatannya adalah subsidi langsung. Karena kita mengurangi lah subsidi harga," terangnya. Dengan perombakan distribusi ini maka akan ada perubahan dari sistem distribusi terbuka menjadi tertutup. Selama ini, setelah alokasi pupuk subsidi ditetapkan oleh pemda dan ditetapkan oleh pemerintah pusat. Lalu dari produsen yang ditugaskan, mengirimnya ke distributor hingga pengecer, ke kelompok petani,namun sistem ini rawan penyimpangan karena fisik pupuk bisa dikuasai oleh orang-orang yang mencari keuntungan. Sumber : www.detik.com

Pemerintah Akan Anggarkan Rp 1 Triliun untuk Pertanian Bawang Merah

May 28, 2015May 28, 2015
bawangimpor2Jakarta -Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman akan meningkatkan produksi bawang merah setiap tahun. Amran mengalokasikan Rp 1 triliun untuk mengembangkan pertanian bawang merah di dalam negeri. Jumlah ini meningkat lebih dari 300% dibandingkan anggaran APBN-Perubahan 2015. Di dalam APBN-Perubahan 2015, anggaran yang dialokasikan untuk bawang merah sebesar Rp 300 miliar ‎dan diusulkan naik Rp 20 miliar menjadi Rp 320 miliar. "Tahun ini Rp 320 miliar kalau Rp 20 miliar disetujui. Tahun depan menjadi Rp 1 triliun atau 3 kali lipatnya," kata Dirjen Hortikultura Kementan Hasanuddin Ibrahim usai rapat di Gedung DPR Senayan, Selasa (26/05/2015). Ada beberapa pertimbangan khusus dari Kementan memperbesar porsi anggaran pengembangan di sektor pertanian bawang merah. Anggaran ini juga untuk mengatasi persoal pasca panen yang kerap menjadi persoal setelah panen raya. Selama ini banyak bawang yang menumpuk saat panen, yang berdampak pada jatuhnya harga, atau sebaliknya saat produksi turun harga melonjak. "‎Tahun depan Rp 1 triliun sudah menjadi prioritas karena kita menemukan harus ada intervensi pemerintah, kita sudah tes petani tidak mampu menyelesaikan persoalannya seperti cabai ramai-ramai ditanam di bulan Oktober panennya menumpuk di Kemarau dan harganya selalu turun termasuk di Ramadan," tuturnya. Selain itu yang menjadi sorotan pemerintah adalah bawang merah menjadi salah satu penyumbang inflasi terbesar. "Bawang merah masuk ke dalam kelompok volatile foods. Harganya fluktuasi sangat tajam dan pengaruh ke inflasi cukup besar, jadi harus diredam," tekannya. Sumber : www.detik.com

Megawati Setuju Ibu Kota Dipindah ke Kalimantan

May 28, 2015
135156_megawatiJakarta -Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri mengungkit kembali isu perpindahan ibu kota dari Jakarta Pulau Jawa ke Palangkaraya Kalimantan Tengah. Menurutnya, ide memindahkan ibu kota tersebut tepat. "Memindahkan ibu kota ke Kalteng saya kira itu tepat," kata Megawati dalam Kuliah Umum 50 Tahun Lemhanas di Gedung Lemhannas, Jalan Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (28/5/2015). Mega menyinggung isu perpindahan ibu kota tersebut saat menjelaskan geopolitik kepada ratusan peserta pendidikan di Lemhannas. Ia kemudian menjelaskan masalah energi di Indonesia, terutama terkait Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir. Sehingga Mega menegaskan dirinya setuju wacana memindahkan ibu kota dari Jakarta ke Palangkaraya. Menurutnya, Kalimantan sebagai pulau tak memiliki gunung berapi sehingga lebih memungkinan untuk keuntungan geopolitik. "Saya setuju ibu kota di Palangkaraya karena Kalimantan pulau tua dan tidak kena ring of fire. Jakarta makin hari makin banjir itu sebetulnya juga bukan karena ada yang buang sampah sembarangan," ucap Mega. "Tapi karena lautnya juga naik. Saya katakan kepada Presiden dan Gubernur, mereka berkata seperti itu ya Bu. Lalu saya katakan, apa tidak kelelep Jakarta ini ya?" tambahnya. Sumber : www.detik.com

Mentan Beri Pembekalan Pada 561 CPNS

May 28, 2015
mentan 561 cpns JAKARTA – Menteri Pertanian menyambut kedatangan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) formasi Tahun 2014 pada acara pembekalan yang diadakan di Auditorium Kanpus Kementerian Pertanian, Selasa (26/5). Mentan menyampikan kepada seluruh CPNS agar menjadi generasi muda yang mempunyai mimpi besar untuk menjadi seorang pemimpin yang dapat membangun pertanian Indonesia yang tangguh di masa yang akan datang. Untuk itu, Mentan akan merubah mindset dan karakter diri para CPNS agar menjadi karakter unggul. “Anda harus menjadi pemimpin bangsa sebelum meninggalkan ruangan ini,” imbau Mentan. Untuk melakukan hal tersebut, lanjut Mentan, harus berpedoman pada empat hal penting, yakni kejujuran, kedisiplinan, kerja keras dan berdoa. Mentan berpesan agar seluruh CPNS bertekad untuk menjadi orang yang bermanfaat dan berbuat yang terbaik bagi negeri ini. “CPNS tersebut akan ditempatkan di berbagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) setiap Eselon I yang ada di berbagai daerah dari Sabang sampai Merauke,” jelas Mentan. Usai memberikan pembekalan, Mentan melakukan penyerahan secara simbolis untuk masing-masing perwakilan unit eselon I lingkup Kementan sebagai tanda penyematan CPNS. Kemudian melakukan penyerahan SK CPNS secara simbolis kepada empat perwakilan CPNS. selanjutnya, para CPNS akan diberikan pembinaan kepegawaian yang secara langsung dipimpin oleh masing-masing perwakilan eselon I yakni 12 unit Eselon I Lingkup Kementan. Tercatat, sebanyak 7.923 orang yang mengikuti tes seleksi pengadaan CPNS Kementan. Peserta yang lolos tes sampai final yakni sebanyak 565 orang. Namun sebanyak 4 orang mengundurkan diri, sehingga jumlah CPNS pengangkatan 2015 yang mengikuti pembekalan sebanyak 561 orang yang akan ditempatkan pada semua unit Eselon I Lingkup Kementan. Pembekalan CPNS tersebut dibuka oleh Mentan didampingi Dirjen Tanaman Pangan, Hasil Sembiring dan Kepala Badan Litbang Pertanian, Haryono serta dihadiri para jajaran Eselon II Lingkup Kementan. Adapun pembagian alokasi CPNS untuk masing-masing unit Eselon I yakni Inspektorat Jenderal mendapat alokasi CPNS sebanyak 14 orang, Ditjen Tanaman Pangan sebanyak 28 orang, Ditjen Perkebunan sebanyak 28 orang, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan sebanyak 87 orang, Ditjen Holtikultura sebanyak 7 orang, Ditjen Sarana dan Prasarana Pertanian sebanyak 10 orang, Ditjen Pengelolaan dan Pemasaran Hasil Pertanian sebanyak 13 orang, Badan Ketahanan Pangan sebanyak 6 orang, dan Badan Penyuluhan dan Perkembangan SDM Pertanian sebanyak 57 orang. Selanjutnya, Sekretariat Jenderal mendapat alokasi CPNS sebanyak 26 orang, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian sebanyak 137 orang, dan Badan Karantina Kementerian Pertanian sebanyak 147 orang. Sumber : www.pertanian.go.id

Mekanisasi Pertanian dari Perspektif Ekonomi dan Kesejahteraan Petani

May 28, 2015
Mekanisasi petani Program upaya khusus (UPSUS) Kementerian Pertanian telah menyerahkan ribuan alat mesin pertanian kepada petani sehingga diperlukan faktor pendukung dan pendampingan terkait dengan pemanfaatan alat mesin pertanian (alsintan) tersebut. Disampaikan Peneliti Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (PSEKP) Balitbangtan Dr. Rusman Heriawan, bahwa bantuan alsinta oleh Kementan dari berbagai jenis ini perlu dipikirkan aspek operasional dan perawatannya. Karakteristik alsintan pada umumnya merupakan barang modal, perlu perawatan, umurnya  panjang, perlu adanya SDM terlatih, dan harus ada upaya transformasi bisnis dari pertanian tradisional ke modern. Untuk pengembangan dan pendampingan alsintan ke depan perlu data eksisting alsintan di lapang, data wilayah potensial dan spesifikasi jenis alsintan yang cocok dengan kondisi spesifiknya, perlu inventarisasi kembali keberadaan UPJA dan pengadaan alsintan dengan memasukkan komponen after sales service dan pengawalan oleh produsen. Kepala Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan) Dr. Astu Unadi pada acara Focus Group Discussion (FGD) Mekanisasi Pertanian Dari Perspektif Ekonomi Dan Kesejahteraan Petani : Peluang dan Tantangan beberapa waktu lalu, menyampaikan keberadaan Unit Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA) telah dibentuk dengan Permentan 25 tahun 2008. UPJA sebagai lembaga ekonomi pedesaan di bawah Gapoktan saat ini masih sangat relevan sebagai lembaga yang mengkoordinasikan kegiatan alsintan di lapangan.  Kendala yang dihadapi UPJA saat ini diantaranya rendahnya kepemilikan lahan, kurangnya pendidikan dan keterampilan operator alsintan, kurang modal, serta belum efisien pengelolaan usaha tani. Jumlah UPJA pada tahun 2014 untuk yang pemula  sebanyak 9.875 unit, tipe berkembang ada  2.147 dan yang profesional ada 446 unit.  Perlu adanya pemetaan kebutuhan alsintan secara lebih detail yang mencakup wilayah-wilayah potensial serta perlunya memasukan aspek inovasi dalam pengadaan alsintan. Informasi lebih lanjut : Pusat Sosial Ekonomi dan kebijakan Pertanian Sumber : www.litbang.pertanian.go.id

Mina Padi Jarwo Untungkan Petani

May 25, 2015May 25, 2015
mina padi
JOGJAKARTA – Beberapa waktu yang lalu jagat maya sempat digegerkan oleh kemunculan foto yang menampilkan sawah yang banyak dipenuhi dengan ikan atau biasa disebut mina padi yang terdapat di Kabupaten Sleman, Jogjakarta. Sistem budidaya ini memberi keuntungan ganda bagi para petani. Petani tidak hanya memperoleh hasil panen padi, namun mendapat panen ikan, dimana hasil ikan yang diperoleh juga dapat digunakan untuk menutup sebagian biaya usahatani, sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani. Varietas padi yang digunakan umumnya adalah Ciherang, IR64 dan varietas lokal Cempo Merah, sedangkan ikan yang dibudidaya adalah ikan jenis nila. Frans Hero Making adalah penyuluh yang berhasil menerapkan sistem usaha tani mina padi pada para kelompok binaannya. Frans sendiri mendapatkan ilmu mengenai mina padi setelah mengikuti pelatihan di Balitpa (sekarang Balai Besar Penelitian Tanaman Padi-BB Padi) Sukamandi pada tahun 1993. Saat ini pun Frans masih terus menerapkan hasil inovasi teknologi Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) yaitu sistem pertanaman jajar legowo yang diaplikasikan pada mina padi. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jogjakarta turut melakukan pendampingan dalam sistem budidaya ini. Frans berpendapat bahwa sistem pertanaman jajar legowo khususnya tipe 2:1 selain dapat meningkatkan hasil produksi padi karena jumlah populasi tanaman meningkat 33%, juga mampu meningkatkan hasil panen ikan, karena dengan banyaknya lorong legowo sehingga ikan akan mempunyai banyak ruang gerak. Dengan banyaknya sinar matahari yang masuk melalui lorong legowo juga mengakibatkan pertumbuhan plankton sebagai makanan alami turut meningkat dan produktivitas ikan akan meningkat. Frans yang merupakan penyuluh di Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K) wilayah V ini menjelaskan bahwa ada dua konsep pola budidaya mina padi, yang pertama pendederan yaitu pemanenan dilakukan pada saat ikan mencapai ukuran bibit. Pada konsep ini selama masa tanam padi empat bulan dapat memanen ikan 2 – 3 kali. Konsep selanjutnya adalah pembesaran yaitu pemanenan dilakukan pada saat ikan mencapai ukuran konsumsi dimana selama masa tanam padi dapat memanen ikan satu kali. Hingga saat ini, penyuluh yang bertugas untuk Kecamatan Pakem ini telah berhasil membina 12 kelompok yang mengelola lahan mina padi seluas 7 ha. selain dikembangkan dengan ikan, juga telah mengembangkan sistem ugadi atau udang galah dan padi. BPTP Jogjakarta sendiri telah mulai mengintroduksikan varietas unggul Inpari 30 yang lebih toleran rendaman agar hasil mina padi tersebut dapat semakin meningkat. Sumber : www.litbang.pertanian.go.id

Soal Temuan Beras Plastik, Ini Kata Menteri Amran

May 25, 2015
TEMPO.CO, Bogor -  Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meminta Kepolisian segara menangkap dan mengusut tuntas pelaku yang menjual dan mendistribusikan beras yang diduga dioplos plastik, " Pokoknya harus di tindak yang memasoknya," katanya saat sidak di Pasar Cibinong, Rabu 20 Mei 2015. Menteri Amran sempat menyebutkan jika beras plastik tersebut merupakan beras impor, "Kemingkinan beras Impor, tapi ini masih dicek apakah ini impor atau dalam negeri, itu masih katanya dari Cina." Dia menambahkan, ia mendengar informasi  ini setelah ramai pembicaraan temuan beras plastik di  Bekasi, "Kami masih melakukan cek lab, dan targetnya tidak lebih dari satu bulan, yang penting untuk mengantisipasi hal ini harus mencintai poduk Indonesia serta jangan impor, " kata dia. Amran mengatakan sidak yang dilakukan di Pasar Cibonong tersebut untuk mengecek harga di pasar dan untuk memastikan harga beras , "Hari ini kami mengecek harga beras di pasar dan kami baru baru keliling Indonesia untuk cek harga beras." Sementara itu, Andi Tan, 43 tahun, salah seorang pedagang beras di Pasar Cibinong, Kabupaten Bogor mengatakan, dia dan sebagian besar pedagang di Pasar Cibinong tidak menjual dan menyediakan beras impor, "Di pasar Cibonong ini tidak menjual beras impor, karena disini mendapat pasokan langsung dari daerah yang menjadi lumbung beras diantaranya, Karawang, Cinjur dan Subang," katanya. Sumber : www.tempo.co M SIDIK PERMANA

Harmonisasi Data Produksi dan Pemanfaatan Pajale di Tingkat Provinsi

May 22, 2015May 22, 2015
Jawa Barat merupakan provinsi penyumbang produksi pertanian pangan yang besar. Tahun 2013, produksi padi di Jawa Barat mencapai  12,08 juta ton, atau menyumbang sekitar 16,95% terhadap produksi nasional, yang menjadikan  Jawa Barat sebagai provinsi penyumbang produksi padi nasional terbesar. Pada tahun 2015 sasaran produksi padi sebesar 11,96 juta ton, dengan sasaran laju pertumbuhan sampai tahun 2018 sebesar 3% per tahun. Namun demikian, sebagai konsekuensi dari implementasi program Upaya Khusus (UPSUS) peningkatan produksi padi nasional, sasaran produksi padi Jawa Barat tahun 2015 dinaikkan menjadi sebesar 13,25 juta ton. Produksi jagung di Jawa Barat pada tahun 2013 adalah 1.101.998 ton, atau menyumbang 5,95 % terhadap produksi nasional. Pada tahun yang sama produksi kedelai di provinsi ini sebesar 51 ribu ton, atau menyumbang 6,56% dari produksi kedelai nasional. Sasaran laju pertumbuhan produksi jagung dan kedelai sampai tahun 2018 masing-masing sebesar 5% dan 3% per tahun. Guna mencapai sasaran produksi pajale (padi jagung kedelai) dan pemanfaatannya, diperlukan keakuratan pengukuran data. Beberapa hal yang mempengaruhi akurasi data produksi Pajale di Jawa Barat, antara lain adalah keakurasian luas baku sawah, besaran angka konversi sawah dan lahan pertanian pangan,  ketepatan sistem ubinan untuk mengukur produtivitas di lapangan terutama yang disebabkan oleh variasi jarak dan pola tanam pada suatu hamparan lahan tertentu, ketelitian dan kompetensi petugas danam mengestimasi luas tanam dan luas panen, dan tidak lengkapnya data ubinan dan data luas tanam, sehingga masih diperlukan estimasi data. Kesulitan yang ditemukan dalam penyusunan Neraca Bahan Makanan (NBM) untuk padi/beras, jagung, dan kedelai antara lain karena belum tersedianya data secara akurat atau belum dipebaharui untuk beberapa variable. Ketidak konsitenan data produksi Pajale ini menegaskan perlunya dengan segera menyempurnakan metode pengumpulan data luas tanam, luas panen, dan produktivitas pangan di lapangan. Selain itu, disempurnakan pula penghitungan jumlah ketersediaan pangan (termasuk konversi, kehilangan hasil, ddan lainnya) dan metoda penghitungan pemanfaatan pangan untuk konsumsi, bahan baku industi pangan dan non pangan, serta bahan baku industri pakan. Untuk mendalami isu dan permasalahan konsistensi data padi, jagung, dan kedelai pada level propinsi dan meningkatkan kesadaran daerah akan perlunya pengumpulan, penghitungan, dan penyajian data pangan secara akurat, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (PSEKP) bersama Dinas Pertanian Provinsi Jawa Barat, BKPD Jawa Barat dan BPS menyelenggarakan FGD Harmonisasi data produksi dan pemanfaatan Padi, jagung, kedelai (Pajale) di tingkat provinsi Jawa Barat. Sumber : http://www.litbang.pertanian.go.id

Mentan: stok beras aman hingga lebaran

May 21, 2015May 21, 2015
Bogor (ANTARA News) - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan stok beras saat ini aman sehingga diyakini dapat memenuhi kebutuhan selama Ramadhan hingga Lebaran Idul Fitri 2015. "Sekarang ini posisi beras Insya Allah aman, cukup untuk Ramadhan sampai Lebaran," kata Menteri usai menghadiri acara Sarasehan ke III Forum Komunikasi Profesor Riset Kementerian Pertanian, di Badan Litbang Pertanian, Cimanggu, Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa. Menteri mengatakan, saat ini stok beras yang tersimpan di Bulog mencapai 1,3 juta ton. Selain itu, pemerintah melalui Kementerian Pertanian terus fokus memantau kegiatan menanam padi. Amran yakin panen dari kegiatan menanam itu mampu mencukupi kebutuhan beras dalam negeri. "Posisi beras aman. Kami belum memikirkan untuk impor. Impor menjadi alternatif terakhir, kita tanam ikhtiar dan berdoa," ujarnya. Terkait harga beras yang cukup tinggi, ia mengatakan pada beberapa wilayah harga gabah masih malah berada di bawah harga pembelian pemerintah (HPP),  seperti di Sabang sampai Merauke harga beras mencapai Rp6.700 per kg. Lebih jauh ia mengatakan perlu dilakukan perubahan strategi dalam pengadaan beras. Selama ini Bulog hadir di penggilingan sehingga pedagang yang mendapat untung lebih besar antara 50 hingga 100 persen. Sedangkan petani hanya mendapat untung10 sampai 20 persen. "Strateginya harus diubah, Bulog harus hadir di tengah petani, agar petani merasakan kehadiran Bulog," katanya. Amran juga meminta Bulog untuk kreatif dalam menghadapi regulasi terkait kadar air dengan menggunakan alat pengering, sehingga beras dari petani dapat diserap dengan harga yang lebih menyejahterakan petani. Saat disinggung tentang beredarnya beras sintetis di pasaran, menteri menegaskan beras jenis tersebut seharusnya tidak boleh masuk ke pasar dalam negeri. "Kami akan berupaya bersama-sama kementerian terkait agar setiap ada sesuatu baru yang masuk harus diseleksi. Beras (sintetis) itu  tidak boleh masuk dan kami akan lakukan  penarikan," ujarnya.

Editor: Risbiani Fardaniah

Sumber : antaranews.com

Mentan gandeng profesor riset wujudkan swasembada pangan

May 21, 2015
Bogor (ANTARA News) - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengajak profesor riset yang ada di Badan Litbang Pertanian untuk mendukung program swasembada pangan melalui penerapan teknologi dan inovasi, hal ini disampaikannya dalam acara sarasehan III Forum Komunikasi Profesor Riset Kementan, di Bogor, Jawa Barat, Selasa. "Tahun ini kita fokus untuk mewujudkan swasembada pangan khususnya padi, kedelai dan jagung. Ini menjadi skala prioritas yang memerlukan keterlibatan banyak pihak, termasuk pakar sesuai ahlinya, harus diikutkan semua," kata Menteri, didampingi Kepala Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian, Haryono. Menteri mengatakan, upaya khusus ini dilakukan agar program swasembada pangan yang ditargetkan dapat terwujud dalam waktu tiga tahun benar-benar telaksana. Secara khusus Menteri juga meminta waktu untuk berdiskusi bersama dengan seluruh tenaga ahli dan profesor yang ada di Balai Litbang Pertanian untuk membahas permasalahan pertanian dan mencarikan solusinya melalui sumbang pemikiran para ahli. "Kita memiliki banyak pakar dan tenaga ahli yang mumpuni, semua bisa begerak bersama-sama pemerintah mewujudkan pertanian yang berdaulat," kata Menteri. Sementara itu, Kepala Balai Litbang Pertanian, Kementan, Haryono mengatakan terdapat 1.800 peneliti di Balai Litbang, dimana 121 diantaranya sudah menyandang gelar profesor riset. Ia mengatakan, pertemuan para profesor riset Balitbang Pertanian dalam rangka menindaklanjuti program pemerintah untuk mewujudkan swasembada melalui penerapan teknologi dan inovasi. "Balitbang Pertanian akan menggerakkan seluruh peneliti dan profesor yang memiliki keahlian dibidangnya seperti hortikultura, pertanian, perkebunan dan peternakan, untuk berkerja bersama-sama pemerintah mewujudkan swasembada," kata Haryono. Menurut Haryono, keterlibatan para peneliti dan profesor riset Balitbang untuk turun ke lapangan, memberikan pendampingan, mengontrol kebijakan pemerintah daerah mulai dari penyediaan air, budidaya, panen hingga pascapanen. Haryono menambahkan, keberhasilan pertanian tidak terlepas dari peran serta teknologi dan inovasi.
Pakar dan peneliti Balitbang Pertanian telah menghasilkan teknologi dan inovasi yang dapat digunakan di lapangan untuk mewujudkan program swasemabda. "Karena keberhasilan pertanian berdasarkan penggunaan teknologi dan inovasi," kata Haryono. Sarasehan ke III Forum Komunikasi Profesor Riset Kementerian Pertanian dihadiri 121 profesor riset yang mengangkat isu tentang swasembada pangan berlangsung selama tiga hari dimulai dari 18-20 Mei. Saat menghadiri kegiatan Sarasehan tersebut, Menteri menyampaikan persoalan-persoalan yang sedang dihadapi sektor pertanian mulai dari irigasi, alat dan mesin pertanian, ketersediaan benih, distribusi pupuk serta keberadaan penyuluh. Tidak hanya itu saja, menteri juga menyinggung soal anggaran pertanian yang sangat besar bisa dimanfaatkan bersama-sama untuk mendukung kemanjuan sektor pertanian di Indonesia, dan mensejahterakan para petani. Menteri juga menyampaikan berbagai program di Kementerian Pertanian, di antaranya "Food Estate" di wilayah Timur Indonesia yang sedang mulai menyusun "grand design" serta DED, dan program lainnya. Ia juga mengkritisi tentang data pertanian yang ada di BPS yang belum sinkron.

Sumber : antaranews.com

Papua Akan Menjadi Lumbung Pangan Nasional

May 18, 2015May 18, 2015
Presiden Jokowi yang didampingi oleh Mentan Amran Sulaiman menghadiri panen raya padi yang dilaksanakan di Kampung Waninggap Miraf, Distrik Tanah Miring, Kab. Merauke, Prov. Papua (10/5/2015). Acara panen ini dihadiri oleh Ka Balitbangtan, Ka Puslitbangtan, Ka BB Padi, Wakil Bupati Merauke, Ka Diperta Merauke, Anggota Komisi IV DPR RI Sulaiman Hamzah. Presiden Jokowi menyampaikan bahwa Papua akan dijadikan daerah lumbung pangan nasional untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional. Untuk itu, di Merauke akan dibangun lahan sawah sebesar 1,2 juta hektar. Jika bisa dioptimalkan maka produksi beras nasional akan melimpah dalam jangka waktu tiga tahun ke depan. Dalam sambutannya, Mentan mengungkapkan bahwa Kementan mendukung program pemerintah yang akan menjadikan Papua sebagai lumbung pangan nasional. Kementan melangkah lebih cepat untuk daulat benih. “Sebab benih itu penting untuk menaikkan produksi padi, sebagai contoh benih baru Inpari 13 produksinya 7,1 ton per hektar dari benih sebelumnya hanya mampu produksi empat ton per hektar,” kata Mentan. Selain itu, di Merauke juga akan dibangun pertanian modern dengan high technology  yaitu pertanian dengan penggunaan mekanisasi penuh dan menuju pertanian organik. Mentan juga menerima laporan langsung dari petani terkait keterlambatan pendistribusian pupuk dan harga gabah dan beras di tingkat petani yang rendah di Merauke. Dengan kondisi seperti ini, petani mengharapkan Bulog untuk turun langsung ke petani untuk menyerap gabah dan beras sesuai HPP agar dapat menikmati keuntungan dan meningkatkan pendapatan serta kesejahteraannya. Mentan berjanji akan membantu petani di Merauke, yakni berkoordinasi dengan pihak terkait mengenai harga gabah dan beras tersebut. Kemudian, akan menambah bantuan di Merauke, namun harus dibarengi dengan peningkatan produksi sebesar 20%. Penggunaan benih bersertifikat di Merauke yang kurang dari 60% dan belum ada irigasi. Sampai saat ini petani masih bergantung dari air hujan. Potensi lahan di Merauke seluas 1,2 juta ha (46% lahan basah dan 54% lahan kering). Sasaran luas tanam sebesar 42.616 ha, panen sebesar 42.483 ha, produksi 210.822 ton GKP, dan  produktivitas 4,3 t/ha GKP di tahun 2015. Varietas yang ditanam yaitu Ciherang 94 ha, Mekongga 40 ha, Rojolele 12 ha, Inpari Sidenuk 45 ha, Inpari 12 dan Inpari 4 (54 dan 52 ha), dan Basmati 18 ha.  Hasil ubinan yang ditanam secara Tugal manual yaitu 6,9 t/ha GKP dan dengan mesin 8,1 t/ha (target 11 t/ha GKP). Sumber : www.litbang.pertanian.go.id

Peneliti temukan ikan berdarah hangat pertama

May 15, 2015May 15, 2015
20150515Opah_moonfishJakarta (ANTARA News) - Opah atau moonfish adalah ikan berdarah hangat pertama yang diketahui mengalirkan darah hangat ke seluruh tubuhnya seperti mamalia dan burung menurut hasil riset baru para peneliti Amerika Serikat yang dipublikasikan di jurnal Science pada Kamis (14/5). Beberapa ikan predator besar seperti tuna dan hiu memang bisa menghangatkan otot atau organ-organ mereka selama pengejaran, tapi opah adalah ikan pertama yang ditemukan menjaga seluruh tubuhnya, termasuk jantung dan otak, lebih hangat dari lingkungannya. Opah, yang besarnya bisa seukuran ban mobil, hidup di berbagai laut dunia, tinggal di kedalaman ratusan kaki di bawah permukaan air yang dingin, dalam perairan yang remang-remang. Pelacakan satelit menunjukkan opah menghabiskan sebagian besar waktunya di kedalaman 150 sampai 1.300 kaki tanpa muncul ke permukaan secara teratur. Kepak sirip dada opah yang konstan menghangatkan tubuhnya, mempercepat metabolisme, gerakan dan waktu reaksinya. Dengan menempelkan pemantau suhu ke opah yang ditangkap dalam survei di West Coast, Amerika Serikat, para peneliti mengetahui rata-rata suhu ototnya sekitar lima derajat Celsius di atas air di sekelilingnya ketika berenang di kedalaman sekitar 45 sampai 300 meter di bawah permukaan air. Ikan yang biasanya mendiami kedalaman yang dingin cenderung lamban, menyimpan energi dengan menyergap mangsa ketimbang mengejarnya. Berdarah hangat membuat opah menjadi predator dengan performa tinggi yang berenang dan bereaksi lebih cepat serta melihat lebih tajam, kata penulis utama hasil studi itu, Nicholas Wegner dari Southwest Fisheries Science Center National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) di La Jolla, California. "Sebelum penemuan ini saya punya kesan bahwa ini adalah ikan yang bergerak lamban, seperti kebanyakan ikan di lingkungan dingin," kata Wegner dalam siaran publik NOAA Fisheries West Coast Region di EurekAlert. "Tapi karena bisa menghangatkan tubuhnya, ikan ini menjadi predator yang sangat aktif yang mengejar gesit seperti cumi-cumi dan bisa bermigrasi dalam jarak jauh," kata ahli biologi itu. Wegner mengatakan peningkatan suhu mempercepat proses fisiologi dalam tubuh. "Hasilnya, otot-otot berkontraksi lebih cepat, resolusi waktu mata meningkat, dan transmisi syaraf lebih cepat. Ini terlihat pada laju berenang yang lebih cepat, penglihatan yang lebih baik dan waktu respons yang lebih cepat," katanya kepada LiveScience. Insang Tak Biasa Para peneliti menduga ada sesuatu yang aneh pada opah setelah menemukan jaringan insang yang tidak biasa: pembuluh darah yang mengangkut darah hangat ke insang ikan mengitari pembuluh darah yang membawa darah dingin kembali ke pusat tubuh setelah menyerap oksigen dari air. Itu berarti darah hangat yang meninggalkan pusat tubuh bisa kembali menghangatkan darah dingin yang kembali dari bagian permukaan pernafasan insang yang menyerap oksigen. Selain itu opah memiliki jaringan lemak yang mengelilingi insang, jantung dan jaringan otot untuk menyekat mereka dari air dingin, yang secara efektif melindungi tubuh dari kehilangan panas. "Tidak pernah ada insang ikan yang seperti ini sebelumnya," kata Wegner. "Alam punya cara mengejutkan kita dengan strategi pintar yang tidak kau sangka. Sulit untuk tetap hangat ketika kau dikelilingi air dingin, tapi opah bisa mengatasinya."

Sumber : antaranews.com Editor: Maryati

COPYRIGHT © ANTARA 2015

Pemerintah gencarkan kembali Gernas kakao

May 15, 2015
20150423antarafoto-kaa-2015-230415-31jkLondon (ANTARA News) - Pemerintah akan kembali menggencarkan Gerakan Nasional percepatan revitalisasi kakao di Indonesia guna memperluas perkebunan penghasil kakao untuk keperluan ekspor, kata Wakil Presiden Jusuf Kalla di London, Kamis. "Kita pernah ada Gernas Kakao 2008, waktu itu (anggarannya) Rp1 triliun per tahun untuk revitalisasi perkebunan kakao selama tiga tahun. Ini kita ajukan lagi Rp1,2 triliun supaya lebih meluas lagi karena target Pemerintah 2020 itu produksi biji kakao naik hingga 50 persen untuk ekspor," kata Wapres. Wapres menjelaskan Indonesia merupakan negara penghasil kakao terbesar ketiga di dunia, setelah Pantai Gading dan Ghana. Oleh karena itu, Pemerintah berupaya untuk memperluas dan memperbaiki kualitas kakao di Tanah Air sehingga dapat masuk ke pasar internasional, salah satunya kawasan Eropa. "Dari semua komoditi dunia yang harganya turun, hanya kakao yang naik. Dan dari tiga negara terbesar penghasil kakao di dunia itu, Indonesia yang paling stabil. Ini artinya kita punya potensi penting di bidang ini," ujarnya. Dengan peningkatan produksi biji kakao di Indonesia, maka hal itu juga dapat meningkatkan kesejahteraan petani kakao karena selama ini produksi kakao langsung dari petani kepada industri pengolahnya. "Produksi kakao itu 95 persen dari petani, itu bagusnya komoditi ini, sehingga pemerataannya bagus dan penghasilannya juga langsung ke petani," tambahnya. Wapres Kalla berkunjung ke London dalam rangka menghadiri Konferensi Federasi Pedagang Kakao (Federation of Cacao Commerce) se-dunia. Selain itu, Wapres juga dijadwalkan bertemu dengan Prince Andrew di Buckingham Palace atas undangan jamuan afternoon tea dari Kerajaan Inggris. Terkait konferensi pedagang kakao, Wapres mengatakan misinya untuk meningkatkan usaha perkebunan kakao di Indonesia supaya dapat meluas hingga menjangkau pasar Eropa. "Kakao itu hasil pertanian terbesar kita ketiga untuk ekspornya, setelah minyak kelapa sawit dan karet. Akhir-akhir ini, hampir semua komoditas itu turun harganya, kecuali kakao, artinya potensi permintaan dunia terhadap kakao ini makin baik," jelas Wapres. Indonesia, ujarnya, memiliki potensi besar dalam produksi biji kakao karena tidak banyak negara di dunia yang memiliki perkebunan kakao. "Tidak banyak negara bisa menghasilkan kakao karena hanya negara-negara dengan iklim tropis itu yang bisa ditanami kakao, sehingga kita punya potensi sangat penting sebagai negara penghasil kakao terbesar ketiga di dunia," ujarnya.

Sumber : antaranews.com Editor: Heppy Ratna

COPYRIGHT © ANTARA 2015

Kementan optimistis produksi padi 73,5 juta ton

May 15, 2015
TaniKementan optimistis produksi padi 73,5 juta ton Buruh tani memotong padi di areal persawahan Desa Bungkil, Megaluh, Jombang, Jawa Timur, Rabu (27/2). (ANTARA/Syaiful Arif) Jakarta (ANTARA News) - Kementerian Pertanian menyatakan optimistis target produksi padi 2015 sebesar 73,5 juta ton gabah kering giling akan tercapai hingga akhir tahun nanti. Dirjen Tanaman Pangan Hasil Sembiring di Jakarta, Selasa, mengatakan realisasi produksi gabah kering giling (GKG) Januari-April 2015 sebesar 31,5 juta ton, atau 42,86 persen dari target tahun ini sebanyak 73,5 juta ton. Menurut dia, produksi gabah nasional masih sesuai dengan target yang sudah ditetapkan. Bahkan bila dihitung dari proyeksi realisasi sampai Mei 2015, diperkirakan mencapai 37 juta ton GKG atau 51 persen dari target. "Sementara pada Mei sendiri kami prediksi mencapai 6.414.720 ton GKG, artinya kalau ditambah dengan produksi bulan Mei saja sudah setengahnya (51,59 persen) dari target produksi GKG tahun ini," katanya. Ia menyatakan, berdasarkan musim tanam Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika dilaporkan tidak ada musim El Nino. "Setelah musim panen selesai juga masih ada panen padi lagi hingga Desember, selain itu ada penambahan produksi setelah perbaikan banyak saluran irigasi," katanya. Selain itu, menurut dia, keyakinan target produksi akan tercapai juga didasarkan ada tambahan lahan baru tahun ini, termasuk adanya perbaikan lahan irigasi. "Kita masih optimistis swasembada beras. Ini berdasar hitungan luas area tanam yang ada dan penambahan 700.000 hektare per bulan setelah program yang sudah kita jalankan," katanya. Pada kesempatan itu Hasil Sembiring juga mengungkapkan, produksi gabah pada Januari 3,19 juta ton, Februari 6,70 juta ton, Maret 12,23 juta ton, April 9,37 juta ton, dan Mei diperkirakan sebesar 6,41 juta ton. Sedangkan, untuk stok beras nasional, menurut dia, hingga menjelang lebaran atau selama 3 bulan terakhir pada Maret 6,88 juta ton, April 5,27 juta ton, Mei 3,60 juta ton. "Artinya jika melihat produksi beras dan stok nasional saat ini, kita belum perlu impor," katanya di hadapan awak media. Sumber : antaranews.com Editor: Heppy Ratna COPYRIGHT © ANTARA 2015

Kementan Siapkan Taman Sains dan Teknologi Pertanian

May 12, 2015May 12, 2015
Taman Sains BANDUNG – Kementerian Pertanian melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) berperan aktif membangun dan mengembangkan Taman Sains dan Teknologi Pertanian (TSTP) sebagai sarana akselerasi impact recognition inovasi pertanian, sekaligus terobosan untuk memperderas arus inovasi pertanian kepada masyarakat, Kamis (7/5). Sesuai arah Nawa Cita Presiden RI Joko Widodo, melalui Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengagendakan untuk membangun Taman Sains (TS) di 34 provinsi dan Taman Teknologi (TT) di 100 kabupaten dalam waktu lima tahun yang dituangkan dalam program quick win. Taman Teknologi yang khusus terkait teknologi pertanian akan dibangun di 16 Kabupaten/Kota. Taman Sains Pertanian (TSP) berada di lima lokasi Kebun Percobaan Balitbangtan yaitu Natar, Jakenan, Maros, Banjarbaru, dan Sigi. Bupati/Walikota yang wilayahnya menjadi lokasi pengembangan TSP maupun TTP berkomitmen dengan menandatangani Nota Kesepakatan, yang disaksikan oleh Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) serta Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Ristek-Dikti). Penandatanganan tersebut sangat diperlukan untuk memperlihatkan komitmen Pemerintah Daerah di tingkat kabupaten/kota dalam menggali potensi sumber-sumber pertumbuhan ekonomi dan mendistribusikan berbagai sumber daya untuk pembangunan pertanian di wilayahnya. Dalam sambutannya Menteri Ristek-Dikti, Muhammad Nasir, mengharapkan agar Taman Sains dan Teknologi secara nasional bisa menjadi cikal bakal pertumbuhan pusat wirausaha baru di bidang teknologi dan pusat layanan teknologi maju ke masyarakat. Sementara itu, Menko PMK, Puan Maharani menambahkan, pembangunan dan pengembangan taman sains dan teknologi diharapkan bisa mengatasi ketertinggalan Indonesia dari negara-negara lainnya dalam bidang teknologi. “Tanpa mengikuti perkembangan sains dan teknologi, bangsa ini tidak bisa mengikuti globalisasi seperti di negara lain,” katanya. Menko PMK berharap, program ini tidak hanya kejar target saja, tetapi juga benar-benar bisa memicu inovasi yang bisa dihasilkan anak bangsa. Kepala Balitbangtan Dr. Haryono menjelaskan bahwa pembangunan dan pengembangan Taman Teknologi Pertanian yang melibatkan lahan petani dalam satu kawasan memerlukan dukungan dan komitmen yang nyata dari Pemerintah Daerah, terutama dalam pembangunan infrastruktur dan keberlanjutan program. Kreativitas seluruh institusi di bawah Kementerian Pertanian di daerah yang disinergikan dengan sumber daya yang ada di tingkat lokal juga sangat menentukan dalam mendorong penguatan peran terjadinya harmonisasi antar pelaku pembangunan pertanian di wilayah Sumber : http://www.pertanian.go.id/

Ironis, 10 Tahun Lagi Tak Ada Anak Muda Jadi Petani

May 12, 2015
TEMPO.CO, Subang - Profesi petani dalam sepuluh tahun mendatang dipastikan ditinggalkan generasi muda Indonesia, terutama di wilayah Jawa Barat. Alasannya, mereka beranggapan bahwa usaha di bidang pertanian atau bercocok tanam sudah tak menjanjikan lagi. Rali Sukari, Ketua Kontak Tani dan Nelayan Andalan Jawa Barat, mengatakan generasi muda, termasuk anak-anak petani, lebih memilih bekerja sebagai wiraswasta, pegawai negeri sipil, atau karyawan pabrik. ”Mereka beranggapan jenis pekerjaan itu lebih memiliki jaminan kesejahteraan,” ujar Rali saat dihubungi, Senin, 23 Maret 2015. Sedangkan bila bertani, kata Rali, semakin hari dianggap semakin merugi. Pemantiknya tak lain harga pupuk, pestisida, bibit dan ongkos produksi yang makin mahal. ”Produksi yang didapat pascapanen tidak sepadan dengan modal.” Ironisnya, kata dia, fasilitas pendukungnya pun rapuh. Misalnya saja, kata Rali, irigasi di Jawa Barat yang 60 persen di antaranya rusak parah karena 20 tahun lebih tak pernah diperbaiki. Bupati Subang Ojang Sohandi mengatakan ketidaktertarikan tersebut semakin bertambah karena para petani sendiri tidak mengajari anak-anaknya untuk mencintai dan menggeluti usaha yang akan diwariskannya itu. Petani di Subang, misalnya, kata dia, akan lebih bangga kalau anak-anaknya sekolah tinggi kemudian menjadi pejabat. Menurut Ojang, hal tersebut jauh berbeda dengan di Jerman. Petani di sana menyekolahkan anak-anaknya memperdalam ilmu pertanian. ”Setelah lulus, mereka kembali bertani dengan kualitas melebih orang tuanya,” ujar Ojang. Adanya fakta tersebut, kata Rali, mengakibatkan regenerasi bidang pertanian mengalami keterlambatan puluhan tahun. Ia mendesak pemerintah segera mengeluarkan regulasi untuk mendukung kembali lahirnya regenerasi petani. ”Caranya dengan menyediakan pupuk, pestisida, dan benih yang murah dan harga beli pascapanen tinggi serta memperbaiki semua irigasi dan membangun waduk-waduk baru,” ujar Rali. Ia pun optimistis jika semua solusi itu benar-benar diwujudkan usaha bidang pertanian kembali dilirik generasi muda, terutama dari kalangan petani.

Ini Tantangan Sektor Pertanian Hadapi MEA 2015

May 12, 2015
Bisnis.com, MAKASSAR--Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia menilai tantangan sektor pertanian cukup berat menghadapi era Masyarakat Ekonomi Asean yang akan mulai diberlakukan pada akhir Desember 2015. Ketua Umum Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI) Bayu Krisnamurti mengatakan, penetapan Asean Economic Community (AEC) atau Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) akan membawa banyak konsekuensi pada pembangunan ekonomi nasional, termasuk pembangunan pertanian. “Karena itu, penetapan ini harus dilihat sebagai proses alamiah dan disikapi secara proporsional dengan tetap mengedepankan upaya antisipatif yang sejalan dengan aturan serta kesepakatan yang ada,” kata Bayu di sela-sela Rapat Kerja Nasional dan Seminar Nasional PERHEPI di Makassar, Kamis (21/1/2015). Dia mengungkapkan secara umum daya saing produk pertanian Indonesia masih cukup beragam. Untuk produk perkebunan secara relatif kondisinya lebih baik. Demikian juga untuk beberapa produk pangan, untuk padi misalnya rerata produktivitas Indonesia hanya sedikit di bawah Vietnam dan jauh lebih tinggi dari negara Asean lainnya. “Persoalannya, begitu banyak produk petani keluar dari lahannya, petani menghadapi berbagai tantangan. Di antaranya kualitas infrastruktur yang buruk, regulasi yang tidak sepenuhnya mendukung upaya mereka mendapatkan harga jual yang baik dan  peluang untuk meningkatkan nilai tambah produk,” bebernya. Semua itu, lanjutnya, membuat daya saing produk petani Indonesia menjadi rendah dan kalah dibandingkan negara-negara Asean lainnya. Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo mengatakan dalam menghadapi MEA, pemerintah pusat harus memberikan dukungan yang lebih besar untuk sektor pertanian. Regulasi dan kebijakan harus benar-benar berpihak pada lingkup pertanian. "Saya optimistis kita bisa melewati Malaysia, dengan mendorong hilirisasi industri pertanian,"  tegasnya. Syahrul berharap, PERHEPI bisa menghasilkan rekomendasi untuk memajukan sektor pertanian, utamanya dalam menghadapi MEA.

Pemerintah Optimistis Akhir 2015 Surplus Produksi Beras

May 8, 2015May 8, 2015
beras suarasurabaya.net - Andi Amran Sulaiman Menteri Pertanian Republik Indonesia optimistis akhir tahun ini tercapai surplus produksi beras berkat Program Khusus untuk Swasembada Pangan Berkelanjutan (UPSUS). Dalam keterangan tertulisnya, Amran menjelaskan bahwa dalam 5 bulan pelaksanaannya, Program UPSUS berhasil mendorong petani meningkatkan produksi pangan yang diperoleh melalui percepatan waktu tanam, peningkatan produktivitas pertanaman, penggunaan irigasi efektif dan efisien, peningkatan penggunaan alat dan mesin pertanian, serta peningkatan index pertanaman. Seperti dilansir Antara, Amran mengatakan pentingnya pencapaian swasembada pangan berkelanjutan sebagai strategi utama untuk menjamin ketahanan pangan bagi seluruh rakyat Indonesia. Dia menetapkan target surplus beras dan swasembada jagung akan terwujud 3 tahun masa jabatannya kendati target tersebut tidak mudah tercapai. Amran lalu menyebut beberapa kendala, antara lain tingginya konversi dan fragmentasi lahan pertanian, kerusakan saluran irigasi, penurunan jumlah petani, kehilangan hasil pasca panen, pasokan pupuk dan benih, terbatasnya sumber pembiayaan, dan tidak stabilnya harga produk pertanian selama musim panen. Sumber: Suara Surabaya

Tim Harga Pangan Harus Transparan dan Sinergis

May 8, 2015
Jusuf KallaJakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menyatakan sektor pertanian dan manufaktur di dalam negeri harus tumbuh bersama agar dapat menyerap tenaga kerja secara maksimal. Alasannya, jika pemerintah terlalu berfokus pada sektor pertanian, maka penyerapan tenaga kerja akan terganggu akibat sektor manufaktur tidak mendapat perhatian. "Jika agraria meningkat maka daya serap tenaga kerja akan terganggu,  akan pengaruhi pada kinerja industri," ujarnya dalam sambutan pada IIF Asia Summit 2015 di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Kamis (7/5/2015). JK mengungkapkan, sektor pengembangan pertanian dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pangan di dalam negeri. Sedangkan pertumbuhan sektor manfaktur dibutuhkan untuk menyerap tenaga kerja. "Harus tumbuh bersama antara pertanian dan manufaktur sehingga pendapatan masyarat lebih baik," lanjutnya. Namun untuk mendorong pengembangan dua sektor ini, pemerintah membutuhkan dana investasi. Hal ini yang diharapkan dapat didapatkan dari investor-investor yang berminat menanamkan modalnya di Indonesia. "Untuk itu kita butuh dana untuk invetasi. Misalnya pada proyek 35 ribu megawatt (MW). Di sektor manufaktur, Jepang dan China sangat gigih untuk datang ke sini," tandasnya. Sumber : liputan6.com